Surga Dalam Sudut Pandang Netral

19

17 April 2013 oleh Aditya Nandiasa Adenan

Foto Aditya dengan Fani

Foto Aditya dengan Fani

Gambaran tentang surga yang ada pada bayangan banyak orang selama ini kebanyakan bersumber dari keterangan-keterangan agama. Jumlah agama di dunia ini ada banyak dan berbeda-beda keterangannya. Masing-masing penganut agama otomatis juga berbeda-beda pandangannya. Masing-masing merasa apa yang dipercayai atau diyakininya adalah yang benar. Dalam hal ini, sebenarnya hanya Tuhanlah yang bisa memastikan benar dan salah karena kebenaran yang sesungguhnya hanya ada pada Tuhan.

Atas dasar hal tersebut, kajian ekslusif tentang surga yang saya bahas di sini adalah kajian dengan sudut pandang yang netral tanpa memihak pada agama manapun yang ada. Pendapat saya pribadi, seluruh manusia tetaplah sama-sama sesama manusia sebagai persatuan saudara yang disebut dengan umat manusia. Saudara/Saudari tinggal menggunakan rasio(akal pikiran) yang jernih dan sehat dalam pengkajiannya. Bila menurut Saudara/Saudari apa yang saya sampaikan di blog ini salah atau keliru, silakan Saudara/Saudari sekedar menjadikan blog ini sekedar bahan bacaan untuk menambah wawasan. Biarlah Tuhan yang membuktikan mana yang benar dan mana yang salah dalam hal surga yang sesungguhnya.

Masing-masing penganut agama mempunyai panggilan nama yang berbeda-beda untuk Tuhan sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing. Menurut saya pribadi, nama-nama tersebut hanya untuk manusia menyebut Tuhan karena nama-nama apapun termasuk nama-nama benda juga tempat adalah bagian dari sistem kehidupan manusia namun kalau sistem Tuhan tentu berbeda dengan sistem manusia yang tak memerlukan nama. Contoh, logika diadakan untuk digunakan oleh manusia dan Tuhan sendiri tak menggunakan logika termasuk dalam menciptakan logika. Renungkanlah mendalam apa yang saya sampaikan ini dan pahamilah karena logika Saudara/Saudari sesungguhnya sanggup mencernanya dengan baik apa yang saya maksud.

Atas dasar hal tersebut, maka di blog ini pun saya menyebut Tuhan secara netral saja tanpa memihak sebutan dari agama manapun. Saya menyebut dengan kata Tuhan saja atau Tuhan Yang Maha Esa Nan Kuasa atau Tuhan Yang Maha Tunggal yaitu Sang Sumber Sang Inti Sang Pemilik Seluruh Kehidupan Bumi Alam Semesta Raya atau Tuhan Yang Maha Segalanya yaitu Yang Maha Di Atas Segala Kemahaan atau Tuhan Yang Maha Mengatur Nan Maha Mengendalikan. Sebutan-sebutan ini menurut saya netral dan selaras dengan segala macam pandangan agama tentang Tuhan. Menurut saya pribadi juga, keterangan-keterangan tentang surga yang ada pada agama-agama kebanyakan mengandung siloka(perumpamaan) yang memerlukan penafsiran matang secara mendalam untuk memahami maksud yang sesungguhnya dimana Tuhan sengaja mengadakan perumpamaan-perumpamaan tersebut untuk memancing manusia agar mendayagunakan optimal akal pikirannya untuk memahaminya secara tepat. Lalu menurut saya pribadi juga, semua agama pada hakikatnya berasal dari Tuhan karena tidaklah akan ada sesuatu di dunia ini tanpa seizin Tuhan sebagai Pemilik Alam. Menurut saya pribadi, Tuhan memang sengaja mengadakan banyak agama untuk mengadakan variasi yang beragam di bumi ini pada umat manusia ibarat adanya banyak macam jenis ataupun warna bunga di sebuah taman lebih indah dibandingkan bila hanya ada satu macam jenis atau warna bunga saja di taman tersebut.

Semoga kita termasuk orang-orang yang menikmati kedamaian di dunia ini. Semoga Tuhan mewujudkan perdamaian indah bagi umat manusia di bumi ini tanpa terkecuali. Kita semua berhak untuk menikmati surga di bumi maupun surga abadi kelak di alam kekal, maka janganlah kita lepaskan hak itu dengan sikap-sikap diri yang biadab ataupun nerakawi. Tuhan menyaksikan kita dan kita semua mempertanggungjawabkan perjalanan hidup kita di dunia ini kepada-Nya.

Iklan

19 thoughts on “Surga Dalam Sudut Pandang Netral

  1. Wawan berkata:

    Maaf Pak, kalau Bapak Agamanya Apa?

      • Wawan berkata:

        Terima kasih Pak, saya tanya lagi kalau Bapak Muslim, mengapa Bapak harus repot-repot membuat konsep tentang surga dunia dan surga abadi segala. Bukankah Quran dan Hadist sudah begitu jelas dan gamblang menjelaskan tentang hal tersebut?

        Kedua, Dalam artikel di Atas, Bapak menyebutkan bahwa semua agama berasal dari Tuhan, saya minta bukti atau catatan sejarah untuk agama Hindu, Budha, Tao, Kunghucu, dan yang lainnya selain Islam, Kristen dan Yahudi..??

        Kalau Bapak Muslim, tentu Bapak akan percaya dengan firman Alloh dalam Quran Surat Ali Imran ayat ke-19. “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” Jadi bagaimana Bapak bisa menginkari ayat ini..??

        Demikian, semoga Bapak Sudi untuk berdiskusi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tersebut. Terima kasih.

  2. Wawan berkata:

    Keempat, di artikel Bapak Tertulis : “Tuhan memang sengaja mengadakan banyak agama untuk mengadakan variasi yang beragam di bumi ini pada umat manusia ibarat adanya banyak macam jenis ataupun warna bunga di sebuah taman lebih indah dibandingkan bila hanya ada satu macam jenis atau warna bunga saja di taman tersebut.”

    Coba Bapak perhatikan Firman Alloh yang saya kutip sebelumnya (Quran Surat Ali Imran ayat 19) yang jelas-jelas Alloh hanya mengakui Islam sebagai agama yang diridhoi-Nya. Jadi Bagiamana Apakah Bapak Sebagai Muslim akan tetap bantah juga ayat tersebut.

    Saya harus katakan dan tegaskan agama bukan taman, agama bukan bunga.

    Mohon penjelasannya.

    • Terima kasih masukannya.

      Tidaklah akan terjadi atau berlangsung sesuatu di bumi ini tanpa izin atau restu Tuhan termasuk adanya banyak agama. Ada baik dan buruk beserta seluruh dua sisi kehidupan pun karena memang Tuhan mengadakan seperti itu. Tuhan mengadakan banyak agama di bumi ini melalui pergerakan refleksifitas yaitu gerak sekecil atau sebesar apapun yang ada di alam ini. Ada yang terbentuk melalui wahyu. Ada juga yang terbentuk melalui intuisi tokoh utama agama tersebut.

      Nabi Muhammad SAW memang Rasul terakhir serta penutup yang Tuhan turunkan ke bumi ini di tanah Arabia. Peninggalan Beliau yang utama adalah kitab suci Alqur’an. Pada saat Beliau hidup, Alqur’an belum dikitabkan dan ayat-ayat yang ada masih berceceran di hafalan orang-orang yang hafal, di dedaunan, di bebatuan dll. Pada saat Beliau wafat, Alqur’an masih juga belum dikitabkan. Pada masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar pun Alqur’an belum dikitabkan. Alqur’an baru dikitabkan pada masa kepemimpinan Khalifah Usman. Hasil pembukuannya pun tidak berurutan sesuai dengan rentetan waktu turunnya ayat-ayat tersebut karena jelas wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah Surat Al-Fatihah ataupun Surat Al-Baqarah. Kita mesti menggunakan rasio(akal pikiran) yang jernih nan sehat untuk memahaminya.

      Apa yang ada di dalam Alqur’an mayoritasnya adalah kalimat-kalimat dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Buktinya, banyak penyebutan nama Allah di dalamnya. Kalau Allah sendiri yang berbicara, Allah tentu tidak akan menyebut Allah. Contoh, saya berbicara dengan Saudara Wawan tentu saya memakai kata “saya” bukan “Aditya”. Ada di dalam Alqur’an beberapa kalimat-kalimat langsung dari Allah namun tetap disampaikannya melalui Malaikat Jibril. Di dalam Alqur’an, begitu banyak siloka atau perumpamaan yang mesti ditafsirkan secara tepat tanpa ditelan mentah-mentah. Karena itulah ada ayat berikut di Alqur’an:

      “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata,”Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik.”
      (QS 2/Al-Baqarah: 26)

      Perhatikanlah juga di ayat tersebut ada penyebutan kata “Dia” dan yang dimaksud dengan “Dia” di sini adalah Allah. Selain mengkaji Alqur’an, kajilah pula ayat-ayat hidup yang nyata yang ada di alam ini yang kita lihat serta dengar setiap hari. Lalu selaraskanlah apa yang ada di Alqur’an dengan fakta yang ada di alam juga kehidupan. Alqur’an sendiri pada saat berhasil dikitabkan pun sudah tercampur baur dengan kekurangan manusia dalam pengumpulan serta penempatan ayat-ayatnya. Bedanya dengan kekurangan Injil, pada saat dikitabkan, Alqur’an yang kemudian diterjemahkan ke banyak bahasa ditetapkan untuk tetap menggunakan bahasa induknya yaitu Bahasa Arab sehingga isi Alqur’an yang ada saat ini tetap sama dengan isi Alqur’an yang telah dikitabkan pada masa kepemimpinan Khalifah Umar.

      Al-Hadits baru dikitabkan jauh lebih lama dari masa pengitaban Alqur’an. Malah Al-Hadits sendiri dikitabkannya di masa kepemimpinan Kerajaan yang menggunakan sistem Raja turun-temurun yang sesungguhnya sistem Raja turun-temurun itu bukanlah pola yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Raja pertama adalah Mu’awiyah dan telaahlah fakta sejarah bagaimana cara Mu’awiyah itu merebut kepemimpinan dari Khalifah Ali dan mendirikan sistem Kerajaan dengan Raja turun-temurun. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat banyak mulai terjadi perpecahan dan hingga saat ini perpecahannya semakin meluas. Gunakanlah logika yang jernih nan sehat, di dalam Alqur’an ataupun Al-Hadits ada yang benar-benar dari Allah, Malaikat Jibril beserta Nabi Muhammad namun ada juga yang tidak. Karena itulah pada saat Nabi Muhammad SAW hendak wafat, Beliau nampak khawatir dan sempat menyebut umatnya 3X. Kekhawatiran itu sesungguhnya karena Nabi Muhammad SAW paham bahwa belum sempurna apa yang Beliau sampaikan dan umatnya akan mengalami perpecahan, namun Allah tetap memerintahkan Nabi Muhammad SAW pulang. Karena itulah Allah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai penutup seluruh Nabi dan tak ada lagi pengiriman Rasul-Rasul karena Allah telah menyimpulkan bahwa sekian banyak Rasul diutus ke bumi sampai Nabi Muhammad SAW tapi tetap saja kebanyakan manusia tak berubah selaras dengan Tuhan dan tetap berlawanan dengan Tuhan.

      Selama ini begitu banyak orang yang berbantah-bantahan(berdebat) tentang Tuhan dan merasa pendapatnya adalah yang benar dengan menyalahkan pendapat orang lain, namun pada akhirnya Saudara Wawan juga seluruh manusia akan mengetahui kebaikan, kebenaran beserta kesejatian yang sesungguhnya karena ada saatnya nanti Tuhan akan mengungkapkannya terang-terangan. Masukan penting dari saya, utamakanlah melakukan pencarian, penemuan, pembelajaran, pemahaman, perenungan, penghayatan, penerapan serta penyempurnaan poin-poin kebaikan, kebenaran beserta kesejatian khususnya mengenai diri, manusia, alam, kehidupan juga Tuhan sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim AS. Bersikaplah netral dan pergunakanlah rasa(hati nurani) juga logika yang jernih nan sehat karena sesungguhnya inilah tujuan utama Tuhan mengadakan rasa beserta logika yang terbatas memang tapi tetap sanggup sampai pada tujuan penelaahan khusus tersebut karena Tuhan memang memberikan kesanggupan tersebut. Semoga Saudara Wawan termasuk manusia yang menikmati ketenangan, kebahagiaan, keselamatan, kemuliaan, kesuksesan beserta kejayaan hakiki di dalam kehidupan di bumi ini lalu tergolong pula sebagai penghuni surga abadi milik Tuhan Yang Maha Kekal.

      Salam Segala Salam. ^_^

      • Wawan berkata:

        Terima kasih, atas tanggapannya:
        Ada beberapa hal yang dapat saya tanyakan kembali:

        Pertama, Bapak tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Yaitu mengenai firman Alloh Dalam Quran Surat Ali Imran ayat 19 yang dengan tegas Alloh menyatakan bahwa hanya Islamlah agama yang diridhoi-Nya. Tapi tidak mengapa, karena uraian Bapak di atas setidaknya telah menggambarkan pemikiran Bapak yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah kalimat-kalimat Jibril Kepada Nabi Muhammad. Dalam hal ini saya bisa menangkap keraguan Bapak bahwa Al-Quran adalah Firman Alloh SWT. Padahal Alloh Telah Berfirman :Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-qur,an dan sesungguhnya kami pula yg akan menjaganya. (QS. 15: 9)

        Jaminan Allah itu terbukti dgn keaslian Al-qur,an yg tdk pernah mengalami perubahan di se-luruh dunia, semua teks Al-quran dlm bahasa arab tdk ada yg berbeda sedikitpun, baik huruf, ayat dan susunannya. Faktor pendukung yg me-nyebabkan keotentikan Al-quran selalu terjamin:

        Al-quran mudah dihafal, sehingga banyak orang hafal Al-quran diluar kepala, sedangkan Al-kitab (bibel) sampai saat ini tdak ada orang yang menghafalnya. Bahkan Paus, pastur dan pendeta seluruh duniapun tak ada yang hafal dengan kitab sucinya.
        Banyak penghafal Al-quran tersebar di seluruh dunia dengan sendirinya mereka menjadi penjaga keaslian Al-qur?an. Setiap kejanggalan dan perubahan yang terjadi pasti diketahui oleh penghafal Al-quran.
        Dgn berbagai cara umat Islam selalu menjaga keaslian Al-quran dengan baik, sebab baca-an Al-quran dijaga dgn kaidah-2 pembacaan (qiroah) dan terikat dlm aturan ilmu tajwid.

        Mengenai adanya kalimat KAMI dan DIA dalam Al-Quran yang dijadikan alasan bahwa Quran adalah kalimat-kalimat Jibril (Bukan Kalimat Alloh yang disampaikan melalui Jibril Kepada Nabi Muhammad) adalah sebuah sebuah pola fikir atau alasan yang mengada-ngada. Coba Bapak Perhatikan uraian ini :

        Seringkali dalam perdebatan muncul syubhat tentang Al Quran, kenapa kadang kadang memakai kata Aku (tunggal) dan kadang kadang memakai kata Kami (jamak), hal ini selalu digunakan oleh kaum nashrani dan kaum kufar lainnya untuk menyerang dan menyebarkan syubhat (kerancuan), serta keraguan atas kebenaran Kitabullah pada kaum muslimin, lalu….sebenarnya bagaimanakah jawaban atas syubhat tersebut ?? berikut adalah jawaban dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullahu ta’ala- :
        ……………….. salah satu sebab turunnya ayat tersebut adalah perdebatan orang-orang nashrani
        mengenai yang kabur bagi mereka. Seperti FirmanNya أنا (Ana = Aku) dan نحن (Nahnu = Kami).
        Para Ulama mengetahui bahwa makna نحن (Nahnu = Kami) disini adalah salah satu yang diagungkan dan memiliki pembantu-pembantu. Dia tidak memaksudkannya dengan makna tiga illah. Takwil kata ini yang merupakan penafsiran yang sebenarnya, hanya diketahui oleh orang-orang yang mantap keilmuannya, yang bisa membedakan antara siapa yang dimaksud dalam kata
        إِيَّا (iyya = hanya kepada) dan siapa yang dimaksud dengan kata إِنَّ (inna = sesungguhnya kami ), karena ikut sertanya para malaikat dalam tugas yang mereka diutus untuk menyampaikannya, sebab mereka adalah para utusanNya.
        Adapun berkenaan dengan satu-satunya illah yang berhak di ibadahi, maka berlaku bagi-Nya saja.
        Karena itu Allahu ta’ala tidak pernah berfirman فإىّن فعبد ( faiyyana fa’budu = hanya kepada kami, maka beribadahlah).
        Setiap kali memerintahkan ibadah, takwa, takut dan tawakal, Dia menyebut diri Nya sendiri dengan nama khususNya. Adapun bila menyebut perbuatan perbuatan yang dia mengutus para malaikat untuk melakukannya maka Dia berfirman :
        إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
        sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata (Al Fath : 1)
        dan…
        فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
        Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaanya itu (Al Qiyamah : 18)
        dan ayat ayat semisalnya
        Ini, meskipun hakekat makna yang dikandungnya yaitu para malaikat, sifat-sifat mereka dan cara cara Rabb mengutus mereka tidak diketahui kecuali oleh Allah ta’ala sebagaimana telah dijelaskan ditempat lain………….
        Wallahu ‘alam
        Bahan bacaan :
        Al Furqon Baina ‘l Haq wa ‘l Bathil, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah , penerbit Dar Ihyai’t Turotsi ‘l Arabi
        Seringkali orang kafir dan setan mencoba mengganggu iman kita dengan bertanya: Mengapa Qur’an sering menggunakan kata “KAMI” untuk ALLAH? Bukankah kami itu bermakna banyak? Apakah itu artinya Qur’an pun mengakui Tuhan itu lebih dari 1?
        LANGSUNG SAJA.
        Penggunaan kata “KAMI” Di Al-Qur’an Karim it digunakan bahwa Allah SWT tidak bertindak/berkerja sendiri melainkan bersama/menyuruh utusan-utusanNya yaitu para Malaikat, para Nabi dan Rasul, dan makhluk hidup lainya yg Allah Ciptakan sendiri. Contohnya:
        1. “Dan telah Kami wahyukan kepadanya perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” QS. 15 Hijr: 66.
        “Kami wahyukan…” Maka disini berarti ada peran makhluk lain yaitu Malaikat Jibril sebagai pembawa atas perintah Allah kemudian disampaikan kepada para Nabi dan Rasul kemudian disampaikan kepada umatnya.
        2. “Dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” QS. Al-‘Ankabut:7.
        Di sini kalimat “KAMI HAPUSKAN” berarti Allah SWT menyuruh malaikat pencatat amalan buruk/dosa (Atid) untuk menghapuskan dosa-dosanya itu. Dan kalimat “KAMI BERI BALASAN” berarti Allah menyuruh malaikat pencatan amal baik (Raqib) untuk mencatat kebaikan mereka dan menyuruh para malaikat lainya untuk menyiapkan tempat di syurga atas apa yg mereka kerjakan.
        3. “……..dan telah Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik….” QS. Al-Israa’:70.
        Berarti yg berperan disini Allah menyuruh malaikat pemberi rizqi (Mikail) kemudian diberikan kepada manusia melalui perantara tumbuhan, hewan-hewan, ataupun melalui manusia juga.
        Bohong dan tidak adil dong apabila seorang pemimpin mengatakan “akulah yg melakukan it” padahal yg melakukannya bukan dia seorang. Begitu juga dengan Allah, Allah Maha Adil dan semua perkataan-Nya adalah benar, maka dari itu Dia (Allah) menggunakan kata “KAMI” di Wahyu-Nya. Dan hal ini juga menjadi penghargaan dan penghormatan penting bagi para malaikat karena ketaatan dn pengabdiannya kepada Allah tidak diabaikan begitu saja, dengan adanya kata “KAMI” tersebut para malaikat menganggap dirinya diakui oleh Allah SWT .
        Jadi, sudah kita ketahui siapa saja yang ada didalam kata “KAMI” yaitu para utusan-utusanNya.
        Dan Kata ‘KAMI’ tidak harus bermakna arti banyak, tetapi menunjukkan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.
        Contoh: Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang berpidato sambutan berkata,”Kami merasa berterimakasih sekali . . . “
        Padahal orang yang berpidato Cuma sendiri dan tidak beramai-ramai, tapi dia bilang “Kami”. Lalu apakah kalimat itu bermakna jika orang yang berpidato sebenarnya ada banyak atau hanya satu ?
        Kata kami dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan nilai kesopanan. Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa dicerap oleh orang asing yang tidak mengerti rasa bahasa. Atau mungkin juga karena di barat tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu.
        Bahasa Arab ialah bahasa paling sukar di dunia. Hal ini disebabkan karena dalam 1 kata, bahasa arab memiliki banyak makna.
        Contoh: Sebuah gender, dalam suatu daerah boleh bermakna lelaki, tapi dalam daerah lain boleh bermakna perempuan.
        Dalam bahasa Arab, dhamir ‘NAHNU’ ialah dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu ‘NAHWU’, maknanya tak cuma kami, tapi aku, saya dan lainnya.
        JIKA MEMANG “KAMI” DALAM QUR’AN DIARTIKAN SEBAGAI LEBIH DARI 1, LALU MENGAPA ORANG ARAB TIDAK MENYEMBAH ALLAH LEBIH DARI 1? MENGAPA TETAP 1 ALLAH SAJA? TENTU KARENA MEREKA PAHAM TATA BAHASA MEREKA SENDIRI.
        Dalam ilmu bahasa arab, penggunaan banyak istilah dan kata itu tidak selalu bermakna zahir dan apa adanya. Sedangkan Al-Quran adalah kitab yang penuh dengan muatan nilai sastra tingkat tinggi.
        Sementara penggunaan kata “AKU” “ALLAH” dan “DIA” dalam Al-Qur’an Karim, digunkan untuk perintah langsung kepada ALLAH SWT tidak ada perantara-perantara, seperti memohon ampun/bertobat kepad-Nya, mengungapkan bahwa Dialah Tuhan satu-satunya, agar menyembah kepada-Nya semata.
        Contoh penggunaan kata AKU dalam Qur’an:
        QS. Thaha :11-14:
        11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa.
        12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.
        13. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan.
        14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku.
        Pada ayat-ayat di atas, kata AKU digunakan karena Allah sendiri berfirman langsung kepada Nabi Musa tanpa perantara Malaikat Jibril….
        QS. Al-Ikhlas:1-4:
        “ Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
        Contoh penggunaan kata KAMI dan AKU yang bersamaan dalam Qur’an:
        QS.21 Anbiyaa: 25.:
        Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.
        Kata KAMI digunakan saat Allah mewahyukan dengan perantara Malaikat Jibril, & kata AKU digunakan sebagai perintah menyembah Allah saja.

        Hal lain yang perlu saya jelaskan : Adalah mengenai keraguan Bapak, mengapa Susunan Al-Quran yang ada sekarang tidak sesuai dengan susunan turunnya wahyu?? Lagi-lagi ini adalah dikarenakan kekurangmengertian kita akan sejarah Al-Quran atau karena kita sering belajar sepotong-sepotong: Coba Perhatikan uraian ini :

        • Ada beberapa pertanyaan seputar penyusunan Al Qur’an yang sering diutarakan sebagian masyarakat muslim. mengapa susunan Al-Qur’an itu dimulai dari surat Al-Fatiha dan diakhiri oleh surat An-Naas. Mengapa tidak disusun sesuai dengan urutan turunnya wahyu kepada Rasul?

        ========== Sebuah Penjelasan:

        Perlu diketahui bahwa jauh sebelum awal mula diturunkan dari langit, Al-Quran Al-Kariem sudah ada di langit. Bahkan Al-Quran Al-Kariem sudah ada jauh sebelumnya lagi. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa paling tidak Al-Quran Al-Kariem mengalami dua kali masa penurunan. Awalnya adalah turunnya Qur’an sekaligus di Baitul ‘Izzah di langit dunia agar para malaikat menghormati kebesarannya. Kemudian sesudah itu Qur’an diturunkan kepada rasul kita Muhammad SAW secara bertahap selama dua puluh tiga tahun. Penurunan yang kedua ini sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian sejak dia diutus sampai wafatnya.

        Susunan Al-Quran yang ada sekarang ini sesuai dengan susunannya sebelum diturunkan ke muka bumi. Dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Naas. Sedangkan mengapa ketika diturunkan ke muka bumi ini tidak urut, tentu ada banyak hikmah di balik semua itu. Tapi yang jelas, setiap kali ada ayat yang turun, Jibril memberitahukan posisi ayat tersebut dalam susunan aslinya. Dan Rasulullah SAW kemudian menjelaskan di manakah sebuah ayat harus diletakkan. Sehingga ketika semua ayat sudah turun, sama sekali tidak ada perbedaan antara susunannya di langit dengan yang ada di dunia.

        Sekarang kami akan sebutkan hikmah di balik peristiwa turunnya ayat Al-Quran secara berangsur-angsur dan tidak sesuai dengan urutannya. Antara lain :

        1. Untuk Menguatkan atau Meneguhkan Hati Rasulullah SAW.

        Rasulullah SAW telah menyampaikan dakwahnya kepada menusia, tetapi ia menhgadapi sikap mereka yang membangkang dan watak yang begitu keras. Ia ditantang oleh orang-orang yang berhati batu, berperangai kasar dan keras kepala. Mereka senantiasa melemparkan berbagai macam gangguan dan ancaman kepada Rasul. Pada dengan hati tulus ia ingin menyampaikan segala yang baik kepada mereka, sehingga dalam hal ini Allah mengatakan:

        “Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.” (al-Kahfi: 6).

        Wahyu turun kepada Rasulullah SAW dari waktu kewaktu sehingga dapat meneguhkan hatinya atas dasar kebenaran dan memperkuat kemauannya untuk tetap melangkahkan kaki dijalan dakwah tanpa menghiraukan perlakuan jahil yang dihadapinya dari masyarakatnya sendiri, karena yang demikian itu hanyalah kabut dimusim panas yang segera akan berakhir.

        2. Untuk Menjadi Tantangan kepada Orang Kafir Sekaligus sebagai Mukjizat.

        Orang-orang musyrik senantiasa berkubang dalam kesesatan dan kesombongan hingga melampaui batas. Mereka sering mangajukan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud melemahkan dan menentang. Untuk menguji kenabian Rasulullah. Mereka juga sering menyampaikan kepadanya hal-hal batil yang tak masuk akal, seperti menanyakan tentang hari kiamat:

        Mereka menanyakan kepadamu tentang hari kiamat. (al-Araf: 187).

        Dan minta disegerakannya azab:

        Dan mereka itu meminta kepadamu untuk disegerakan azab. (al-Hajj: 47).

        Maka turunlah Qur’an dengan ayat yang menjelaskan kepada mereka segi kebenaran dan memberikan jawaban yang amat jelas atas pertanyaan mereka, misalnya firman Allah:

        Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya, yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak suatu kemanfaatanpun dan tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak membangkitkan. (al-Furqan: 3).

        Maksud ayat tersebut ialah “Setiap mereka datang kepadamu dengan pertanyaan yang aneh-aneh dari sekian pertanyaan yang sia-sia, Kami datangkan padamu jawaban yang benar dan sesuatu yang lebih baik maknanya dari semua pertanyaan-pertanyaan yang hanya merupakan contoh kesia-siaan saja.”

        Di saat mereka keheran-heranan dengan turunnya Qur’an secara berangsur, maka Allah menjelaskan kepada mereka dengan Qur’an yang diturunkan secara berangsur sedangkan mereka tidak sanggup untuk membuat yang serupa dengannya. Akan lebih melihatkan kemukjizatannya dan lebih efektif pembuktiannya dari pada kalau Quran diturunkan sekaligus lalu mereka diminta membuat yang serupa dengannya. Oleh sebab itu ayat diatas datang sesudah pertanyaan mereka. Mengapa Qur`an itu tidak diturunkan kepaanya sekali turun saja? Maksudnya ialah: Setiap mereka datang keadamu dengan membawa sesuatu yang ganjil yang mereka minta seperti turunnya Al-Quran Al-Karim sekaligus, Kami berikan kepadamu menurut kebijaksanaan Kami membenarkanmu dan apa yag lebih jelas maknanya dalam melemahkan mereka, yaitu dengan turunnya Al-Quran Al-Karim secara berangsur. Hikmah yang demikian juga telah diisyaratkan oleh keterangan yang terdapat dlam beberapa riwayat dalam hadis Ibn Abbas mengenai turunnya Qur`an : `Apabila orang-orang musyrik mengadakan sesuatu, maka Allah pun mengadakan jawabannya atas mereka.`

        3. Untuk Mempermudah Hafalan dan Pemahamannya.

        Al-Quran Al-Karim turun ditengah-tengah umat yang ummi, yang tidak pandai membaca dan menulis, catatan mereka adalah daya hafalan dan daya ingatan. Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang tata cara penulisan dan pembukuan yang dapat memungkinkan mereka menuliskan dan membukukannya, kemudian menghafal an memahaminya.

        Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (al-Jumuah: 2)

        4. Kesesuaian dengan Peristiwa-peristiwa Pentahapan dalam Penetapan Hukum.

        Manusia tidak akan mudah mengikuti dan tunduk kepada agama yang baru ini seandainya Al-Quran Al-Karim tidak menghadapi mereka dengan cara yang bijaksanadan memberikan kepada mereka beberapa obat penawar yang ampuh yang dapat menyembuhkan mereka dari kerusakan dan kerendahan martabat. Setiap kali terjadi suatu peristiwa, diantara mereka, maka turunlah hukum mengenai peristiwa itu yang menjelaskan statusnya dan penunjuk serta meletakkan dasar-dasar perundang-undangan bagi mereka, sesuai dengan situasi dan kondisi, satu demi satu. Dan cara ini menjadi obat bagi hati mereka.

        Pada mulanya Quran meletakkan dasar-dasar keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-nya, dan hari kiamat, serta apa yang ada dalam hari kiamat itu. Seperti kebangkitan, hisab, balasan, surga dan neraka. Untuk itu,Al-Quran Al-Karim menegakkan bukti-bukti dan alasaan sehingga kepercayaan kepada berhala tercabut dari jiwa orang-orang musyrik dan tumbuh sebagai gantinya akidah Islam.

        Al-Quran Al-Karim mengajarkan ahlak mulia yang dapat membersihkan jiwa dan meluruskan kebengkokannya dan mencegah perbuatan yang keji dan munkar. Sehingga dapat terikikir habis akar kejahatan dan keburukan. Ia menjelaskan kaidah-kaidah halal dan haram yang menjadi dasar agama dan menancapkan tiang-tiangnya dalam hal makanan, minuman, harta benda, kehormatan dan nyawa.

        Kemudian penetapan hukum bagi umat ini meningkat kepada penanganan penyakit-penyakit sosial yang mudah mendarah daging dalam jiwa mereka sesudah digariskan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama dan rukun-rukun Islam yang menjadikan hati mereka penuh dengan iman, ikhlas kepada Allah dan hanya meyembah kepada-Nya serta tidak menyekutukan-Nya.

        5. Bukti yang Pasti Bahwa Al-Quran Al-Karim Diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.

        Al-Qur`an yang turun secara berangsur kepada Rasulullah SAW dalam waktu lebih dari dua puluh tahun ini ayat-ayatnya turun dalam selang waktu tertentu, dan selama ini orang membacanya dan mengkajinya surah demi surah. Ketika ia melihat rangkaiannya begitu padat, tersusun cermat sekali dengan makna yang saling bertaut, dengan gaya yang begitu kuat, serta ayat demi ayat dan surah demi surah saling terjalin bagaikkan untaian mutiara yang indah yang belum ada bandigannya dalam perkataan manusia:

        Alif laam raa, suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, (Hud: 1).

        Seandainya Qur`an ini perkataan manusia yang disampaikan dalam berbagai situasi, peristiwa dan kejadian, tentulah didalamnya terjadi ketidak serasian dan saling bertentangan satu dengan yang lainnya, serta sulit terjadi keseimbangan.

        Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur`an? Kalau kiranya Al Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.` (an-Nisa’: 82).

        Hadis-hadis Rasulullah SAW sendiri yang merupakan puncak kefasihan yang paling bersastra sesudah Quran tidaklah tersusun dalam sebuah buku dengan ungkapan yang lancar serta satu dengan yang lain saling berkait dalam satu kesatuan dan ikatan seperti halnya Al-Quran Al-Karim atau dalam bentuk susunan yang serasi dan harmoni yang mendekatinya sekalipun, apalagi ucapandan perkataan manusia lainnya.

        Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur`an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (al-Isra: 80)

        Hal lain dari pernyataan Bapak yang bisa membingungkan Adalah pernyataan Bapak bahwa pembukuan hadist-hadist dilakukan secara turun temurun di zaman raja-raja Islam, sungguh pernyataan yang sangat sempit. Akan saya kirimkan beberapa uraian (menyusul) yang akan membantah pernyataan Bapak tersebut.

        PERNYATAAN BAPAK :Tidaklah akan terjadi atau berlangsung sesuatu di bumi ini tanpa izin atau restu Tuhan termasuk adanya banyak agama. Ada baik dan buruk beserta seluruh dua sisi kehidupan pun karena memang Tuhan mengadakan seperti itu. Tuhan mengadakan banyak agama di bumi ini melalui pergerakan refleksifitas yaitu gerak sekecil atau sebesar apapun yang ada di alam ini. Ada yang terbentuk melalui wahyu. Ada juga yang terbentuk melalui intuisi tokoh utama agama tersebut. Dalam hal ini Bapak telah menjawab sendiri bahwa ada agama-agama atau kepercayaan yang dibentuk oleh Intuisi Tokoh-Tokoh utama agama tersebut. Manusia diberikan kebebasan berfikir dan bertindak, tapi yang harus diingat fikiran dan tindakan kita akan dipertanggung jawabkan dihadapan Alloh SWT, jadi tidak boleh SEENAK UDEL mengeluarkan fikiran-fikiran yang bertentangan dengan aturan-aturan agama, terutama Islam yang kita peluk.ingatlah firman Allah ” dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak ketahui kerana pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan dipertangungjawabkan.” (17:36)

        Demikian jawaban – jawaban atas pernyataan Bapak di atas. Kayaknya diskusi kita semakin hangat…..terima kasih atas tanggapannya Pak, semoga Bapak tetap sehat.

        Salam hormat

  3. Wawan berkata:

    Berikut Saya Kirimkan Dua Artikel Tentang Sejarah Pembukuan Hadist dengan harapan mudah-mudahan menjadi tambahan Ilmu Bagi saya dan Bapak, sehingga dapat menjawab apa yang Bapak nyatakan di jawaban Bapak sebelumnya.

    REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Heri Ruslan

    Memasuki abad ke-3 H, para ulama mulai memilah hadis-hadis sahih dan menyusunnya ke dalam berbagai topik.

    Memasuki abad ke-8 M, satu per satu penghafal hadis meninggal dunia. Meluasnya daerah kekuasaan Islam juga membuat para penghafal hadis terpencar-pencar ke berbagai wilayah. Di tengah kondisi itu, upaya pemalsuan hadis demi memuluskan berbagai kepentingan merajalela.

    Kondisi itu mengundang keprihatinan Umar bin Abdul Aziz (628-720 M), Khalifah Dinasti Umayyah kedelapan yang berkuasa pada 717-720 M. Guna mencegah punahnya hadis, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pembukuan hadis-hadis yang dikuasai para penghafal. Gagasan pembukuan hadis itu pun mendapat dukungan dari para ulama di zaman itu.

    Sang Khalifah yang dikenal jujur dan adil itu segera memerintahkan Gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm (wafat 117 H) untuk mengumpulkan hadis dari para penghafal yang ada di tanah suci kedua bagi umat Islam itu. Saat itu, di Madinah terdapat dua ulama besar penghafal hadis, yakni Amrah binti Abdurrahman dan Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

    ‘’Kedua ulama besar itu paling banyak menerima hadis dan paling dipercaya dalam meriwayatkan hadis dari Aisyah binti Abu Bakar,’’ tulis Ensiklopedi Islam. Selain itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga memerintahkan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (wafat 124 H) untuk menghimpun hadis yang dikuasai oleh para ulama di Hijaz dan Suriah.

    Sejarah peradaban Islam mencatat Az-Zuhri sebagai ulama agung dari kelompong tabiin pertama yang membukukan hadis. Memasuki abad ke-2 H atau abad ke- 8 M, upaya pengumpulan, penulisan, serta pembukuan hadis dilakukan secara besar-besaran.

    Para ulama penghafal hadis mencurahkan perhatian mereka untuk menyelamatkan ‘’sabda Rasulullah SAW’’ yang menjadi pedoman kedua bagi umat Islam, setelah Alquran. Ulama diberbagai kota peradaban Islam telah memberi kontribusi yang besar bagi pengumpulan, penulisan, dan pembukuan buku di abad ke-2 H.

    Di kota Makkah, ulama yang getol dan fokus menyelamatkan hadis adalah Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij. Pembukuan hadis di kota Madinah dilakukan oleh Malik bin Anas atau Imam malik dan Muhammad bin Ishak. Kegiatan serupa juga dilakukan ulama di kota-kota peradaban Islam seperti; Basrah, Yaman, Kufah, Suriah, Khurasan dan Rayy (Iran), serta Mesir.

    Upaya pengumpulan, penulisan, dan pembukuan hadis pada masa itu belum sesuai harapan. Pada masa itu, masih terjadi percampuran antara sabda Rasulullah SAW dengan fatwa sahabat dan tabiin. Hal itu tampak pada kitab Al-Muwatta yang disusun oleh Imam Malik.

    Pada zaman itu, isi kitab hadis terbilang amat beragam. Sehingga, ada ulama yang menggolongkannya sebagai al-musnad, yakni kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan nama sahabat yang menerima hadis dari Rasulullah SAW.

    Selain itu, ada pula yang memasukan pada kategori al-jami, yakni kitab hadis yang memuat delapan pokok masalah, yakitu akidah, hukum, tafsir, etika makan-minum, tarikh, sejarah kehidupan Nabi SAW, akhlak, serta perbuatan baik dan tercela.

    Ada pula yang menggolongkan kitab hadisnya sebagai al-mu’jam, yakni kitab yang memuat hadis menurut nama sahabat, guru, kabilah, atau tempat hadis itu didapatkan; yang diurutkan secara alfabetis.

    Berbagai upaya dilakukan para ulama periode berikutnya. Para tabiin dan generasi sesudah tabiin mencoba memisahkan antara sabda Rasulullah SAW dengan fatwa para sahabat dan tabiin. Para ulama pun menuliskan hadis yang termasuk sabda Rasulullah lengkap dengan sanadnya atau dikenal sebagai al-musnad.

    Ulama yang generasi pertama yang menulis al-musnad adalah Abu Dawud Sulaiman Al- Tayasili (133-203 H). Setelah itu, ulama generasi berikutnya juga menulis al-musnad. Salah seorang ulama terkemuka yang menulis kitab hadis itu adalah Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali. Kitab hadisnya dikenal sebagai Musnad al-Imam Ahmad Ibnu Hanbal.

    Meski telah memisahkan antara hadis sabda Rasulullah SAW dengan fatwa sahabat dan tabiin, al-musnad dianggap masih memiliki kekurangan, karena masih mencampurkan hadis sahih, hasan, daif, bahkan hadis palsu alias maudhu.

    Memasuki abad ke-3 H, para ulama mulai memilah hadis-hadis sahih dan menyusunnya ke dalam berbagai topik. Abad ini disebut sejarah islam sebagai era tadwin atau pembukuan Alquran. Pada masa ini, muncul ulama-ulama ahli hadis yang membukukan sabda Rasulullah SAW secara sistematis.

    Para ulama hadis yang muncul di abad pembukuan hadis itu antara lain; Imam Bukhari menyusun Sahih al-Bukhari; Imam Muslim menyusun Sahih Muslim; Abu Dawud menyusun kitab Sunan Abi Dawud; Imam Abu Isa Muhammad At-Tirmizi menyusun kitab Sunan at-Tirmizi; Imam An-Nasai menyusun kitab Sunan An-Nasai dan Ibnu Majah atau Muhammad bin Yazid ar-Rabai al-Qazwini. Keenam kitab hadis ini kemudian dikenal dengan sebutan al-Kutub as-Sittah atau kitab hadis yang enam.

    Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkan hadis keenam pada jajaran al-Kutub as-Sittah. Sebagian ulama berpendapat, kitab yang keenam itu adalah Sunan Ibnu Hibban karya Ibnu Hibban al-Busti (270-354 H). Ulama lainnya menempatkan al-Muwatta karya Imam Malik sebagai kitab hadis keenam.

    Sejarah Singkat Kodifikasi Hadis
    Hadis Nabawi atau Sunnah Nabawiyyah adalah satu dari dua sumber syariat Islam setelah Al-Quran. Fungsi hadits dalam syariat Islam sangat strategis. Diantara fungsi hadis yang paling penting adalah menafsirkan Al-Qur`an dan menetapkan hukum-hukum lain yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an. Begitu pentingnya kedudukan hadits, pantas jika salah seorang ulama berkata, “Al-Qur`an lebih membutuhkan kepada Sunnah daripada Sunnah kepada Al-Qur`an.”
    Dahulu, para sahabat yang biasa mendengarkan perkataan Nabi dan menyaksikan tindak-tanduk dan kehidupan Nabi secara langsung, jika mereka berselisih dalam menafsirkan ayat Al-Quran atau kesulitan dalam menentukan suatu hukum, mereka merujuk kepada hadits Nabi. Mereka sangat memegang teguh sunnah yang belum lama diwariskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelengkap wahyu yang turun untuk seluruh manusia.
    Sejak jaman kenabian, hadis adalah ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslimin. Hadits mendapat tempat tersendiri di hati para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang datang setelah mereka. Setelah Al-Quran, seseorang akan dimuliakan sesuai dengan tingkat keilmuan dan hapalan hadisnya. Karena itu, mereka sangat termotivasi untuk mempelajari dan menghafal hadis-hadis Nabi melalui proses periwayatan. Tidak heran, jika sebagian mereka sanggup menumpuh perjalanan beribu-ribu kilometer demi mencari satu hadits saja.
    Di awal pertumbuhan ilmu hadis ini, kaum muslimin lebih cenderung bertumpu pada kekuatan hapalannya tanpa menuliskan hadis-hadis yang mereka hapal sebagaimana yang mereka lakukan dengan Al-Qur`an. Kemudian, ketika sinar Islam mulai menjelajah berbagai negeri, wilayah kaum muslimim semakin meluas, para sahabat pun menyebar di sejumlah negeri tersebut dan sebagiannya sudah mulai meninggal dunia serta daya hapal kaum muslimim yang datang setelah mereka sedikit lemah, kaum muslimin mulai merasakan pentingnya mengumpulkan hadis dengan menuliskannya.
    Masa Sahabat
    Sebetulnya, kodifikasi (penulisan dan pengumpulan) hadis telah dilakukan sejak jaman para sahabat. Namun, hanya beberapa orang saja diantara mereka yang menuliskan dan menyampaikan hadis dari apa yang mereka tulis. Disebutkan dalam shahih al-Bukhari, di Kitab al-Ilmu, bahwa Abdullah bin ‘Amr biasa menulis hadis. Abu Hurairah berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih banyak hadisnya dari aku kecuali Abdullah bin ‘Amr, karena ia biasa menulis sementara aku tidak.”
    Namun, kebanyakan mereka hanya cukup mengandalkan kekuatan hapalan yang mereka miliki. Hal itu diantara sebabnya adalah karena di awal-awal Islam Rasulullah sempat melarang penulisan hadis karena khawatir tercampur dengan Al-Qur`an. Dari Abu Sa’id al-Khudri, Bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah menulis dariku! Barangsiapa menulis dariku selain Al-Quran, maka hapuslah. Sampaikanlah dariku dan tidak perlu segan..” (HR Muslim)
    Masa Tabi’in dan setelahnya
    Tradisi periwayatan hadis ini juga kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh tabi`in sesudahnya. Hingga datang masa kepemimpinan khalifah kelima, Umar Ibn Abdul’aziz. Dengan perintah beliau, kodifikasi hadits secara resmi dilakukan.
    Imam Bukhari mencatat dalam Shahihnya, kitab al-ilmu, “Dan Umar bin Abdul ‘aziz menulis perintah kepada Abu Bakar bin Hazm, “Lihatlah apa yang merupakan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tulislah, karena sungguh aku mengkhawatirkan hilangnya ilmu dan lenyapnya para ulama.”
    Ibnu Hajar mengatakan, “Dapat diambil faidah dari riwayat ini tentang permulaan kodifikasi hadis nabawi. Dahulu kaum muslimin mengandalkan hapalan. Ketika Umar bin Abdul aziz merasa khawatir –padahal beliau ada di akhir abad pertama- hilangnya ilmu dengan meninggalnya para ulama, beliau memandang bahwa kodifikasi hadis itu dapat melanggengkannya.
    Abu Nu’aim meriwayatkan dalam tarikh ashfahan kisah ini dengan redaksi, “Umar bin Abdul ‘aziz memerintahkan kepada seluruh penjuru negeri, “lihatlah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kumpulkanlah.”
    Diantara yang pertama kali mengumpulkan hadis atas perintah Umar bin Abdul ‘aziz adalah Muhammad bin Muslim, ibnu Syihab az-Zuhry, salah seorang ulama ahli Hijaz dan Syam. Setelah itu, banyak para ulama yang menuliskan hadis-hadis Rasulullah dan mengumpulkannya dalam kitab mereka.
    Di Mekah ada Ibnu Juraij (w 150 H) dengan kitab “as-sunan”, “at-Thaharah”, “as-shalah”, “at-tafsir” dan “al-Jaami”. Di madinah Muhammad bin Ishaq bin Yasar (w 151 H) menyusun kitab “as-sunan” dan “al-Maghazi”, atau Malik bin Anas (w 179 H) menyusun “al-Muwaththa”. Di Bashrah Sa’id bin ‘Arubah (w 157 H) menyusun “as-sunan” dan “at-tafsiir”, Hammad bin Salamah (w 168 H) menyusun “as-sunan”. Di Kufah Sufyan ast-Tsauri (w 161 H) menyusun “at-Tafsir”, “al-Jami al-Kabir”, al-Jami as-Shaghir”, “al-Faraaidh”, “al-Itiqad”
    Al-‘Auza’I di Syam, Husyaim di Washith, Ma’mar di Yaman, Jarir bin Abdul hamid di ar-Rai, Ibnul Mubarak di Khurasan. Semuanya adalah para ulama di abad ke dua. Kumpulan hadis yang ada pada mereka masih bercampur dengan perkataan para sahabat dan fatwa para ulama tabi’iin.
    Begitulah juga penulisan hadis ini menjadi tradisi ulama setelahnya di abad ke tiga dan seterusnya. Hingga datang zaman keemasan dalam penulisan hadis. Ia adalah periode Kitab Musnad Ahmad dan kutub sittah. Diantaranya adalah dua kitab shahih. Al-Imam al-Bukhari, seorang ulama hadis jenius yang memiliki kedudukan tinggi, menulis dan mengumpulkan hadis-hadis shahih dalam satu kitab yang kemudian terkenal dengan nama “shahih al-Bukhari”. Diikuti setelahnya oleh al-Imam Muslim dengan kitab “shahih muslim”.
    Tidak hanya itu, zaman keemasan ini telah menelurkan kitab-kitab hadis yang hampir tidak terhitung jumlahnya. Dalam bentuk majaami, sunan, masanid, ‘ilal, tarikh, ajzaa` dan lain-lain. Hingga, tidak berlalu zaman ini kecuali sunnah seluruhnya telah tertulis. Tidak ada riwayat yang diriwayatkan secara verbal yang tidak tertulis dalam kitab-kitab itu kecuali riwayat-riwayat yang tidak diperhitungkan.
    Abu Khaleed –

    • Terima kasih banyak atas masukan lengkap penjelasan dari Saudara Wawan mengenai Alqur’an dan Al-Hadits. Pendapat dan pemikiran manusia memang berbeda-beda. Saya pribadi menghormati pendapat atau pemikiran Saudara Wawan. Sebagaimana yang saya sampaikan sebelumnya bahwa pada akhirnya Tuhan akan mengungkapkan sepenuhnya kebenaran atau kesejatian yang sesungguhnya di balik seluruhnya. Yang bisa kita lakukan adalah mendayagunakan seoptimalnya rasa(hati nurani) juga rasio/logika(akal pikiran) kita seoptimalnya untuk melakukan pencarian, penemuan, pembelajaran, pemahaman, perenungan, penghayatan, penerapan beserta penyempurnaan poin-poin kebaikan, kebenaran serta kesejatian khususnya mengenai diri, manusia, alam, kehidupan juga Tuhan. Saya pribadi tetap memilih sikap netral terhadap seluruh agama yang ada di bumi saat ini. Tuhan Yang Maha Mengetahui mengetahui isi hati dan pikiran diri saya ini.

      Btw mari sama-sama kita mendoakan kepergian Almarhum Ustad Jefri yang baru saja wafat pagi dinihari tadi. Semoga Beliau diterima di surga abadi milik Tuhan Yang Maha Esa Nan Kuasa. Amin.

      Alangkah baiknya bila Saudara Wawan membaca ulang secara seksama artikel saya juga balasan saya yang terakhir dan pahami mendalam jangan dibaca sekilas agar keseluruhan dari apa yang saya maksud bisa diserap sempurna. Alangkah baiknya juga bila Saudara Wawan menetralkan diri juga pemikiran dulu dari doktrin ataupun dogma manapun sebelumnya agar logika yang jernih nan sehat bisa berkinerja sepenuhnya untuk menghasilkan pemahaman yang jernih dari penelaahan yang teliti.

      Salam kenal dari saya. Kalau ada pin BB, silakan add pin saya ya 313194C4. Terima kasih atas silaturahmi dan diskusi hangatnya. Pesan saya, apapun yang telah kita pahami sesuai batas kemampuan serta penelaahan kita, kita mesti menerapkannya secara totalitas dalam kehidupan bukan hanya menjadikannya teori atau wacana belaka sehingga Tuhan pun mempunyai penilaian baik kepada kita. Amin. Silakan juga mengunjungi http://pusatspiritualsupranatural.wordpress.com bila Saudara Wawan sempat. Salam Segala Salam. ^_^

      • Wawan berkata:

        Terima kasih Pak, atas tanggapannya dan saya juga sampaikan tanggapan sebagai berikut:
        1.. Tentu sebelum saya memberikan tanggapan kepada artikel Bapak saya juga membaca
        dulu dengan seksama artikel Bapak. Saya tidak akan pernah menanggapi apa yang ti
        dak pernah saya pahami.
        2. Kedua saya usulkan Bapak juga membaca ulang jawaban-jawaban yang saya sampaikan
        kepada Bapak dengan jernih dan seksama sehingga Bapak bisa “kembali” kepada jalan
        Quran dan Sunnah Nabi dan tidak “mendewakan/menuhankan” logika semata.
        3. Saya adalah orang yang tidak menganut faham atau madhab tertentu, saya hanya bela-
        jar sesuai ketentuan Quran dan Sunnah (Baca dan Fahami QS Ali Imran ayat 31-32). Ja-
        di saya belajar dari manapun selama tidak bertentangan dengan Quran dan Sunnah. Ke-
        mampuan akal dan logika saya akan diusahakan diselaraskan dengan ajaran agama sa-
        ya yaitu Islam. Dan saya berdoa semoga ke Islaman kita bukan hanya di KTP, Islam kita
        bukan hanya pada acara kelahiran dan kematian saja, tapi Islam dalam seluruh aktivitas
        hidup dan kehidupan kita (Baca dan Fahami Qs Al Baqoroh ayat 208).
        4. Saya berharap diskusi akan terus dilakukan, bapak buka blog dengan maksud agar pe-
        mikiran Bapak dapat dijadikan referensi oleh orang lain. Maka komentar adalah bagian
        dari blog tersebut, dan saya akan sangat menghormati bila bapak membuka terus ruang
        diskusi ini secara umum juga bukan secara private/pribadi via BB, sehingga orang tidak
        bisa menakar, dan memilih mana yang Haq dan mana yang bathil..
        5. Kalau Bapak mereferensikan tulisan-tulisan Bapak, saya ucapkan terima kasih. Sayapun
        usulkan Bapak untuk membeli buku-buku hadist dan pengetahuan Islam lainnya yang di-
        tulis oleh para ulama pembela Quran dan Sunnah, dan tidak hanya membaca buku-buku
        yang dikarang oleh kaum liberalis yang mendewakan Akal/Rasio belaka, atau hanya be-
        lajar dari satu orang guru saja, Maaf saya lupa pak, saya referensikan Bapak membeli
        atau membaca dan memahami Quran dan terjemahannya yang dilengkapi dengan tafsir
        singkatnya, sehingga kita tidak memahami Quran hanya sebatas logika yang kita miliki.
        6. Saya mau bertanya Pak (sebelumnya saya minta maaf), kalau nggak salah ada foto Ba-
        pak bersama Sdr. Subur dan Sdr. Sigit (saya nggak mau nyebut Eyang…kayaklnya Ke-
        bagusan) Apakah Bapak dekat dengan mereka??
        7. Terima kasih pak,atas diskusi hangatnya semoga kita lebih dekat kepada Jalan Alloh de-\
        ngan mencintai-Nya dan menjalankan semua titahnya.

        Salam hangat

        Wawan

      • Wawan berkata:

        Bapak Aditya yang baik, saya kirimkan sebuah artikel buat Bapak, semoga dapat dibaca dengan baik disertai dengan hati dan fikiran yang jernih.

        Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu.”(Qs. al-Baqarah 2:208)

        Ayat diatas merupakan seruan, perintah dan juga peringatan Allah yang ditujukan khusus kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang mengakui Allah sebagai Tuhan satu-satunya dan juga mengakui Muhammad selaku nabi-Nya agar masuk kedalam agama Islam secara kaffah atau secara keseluruhan, benar-benar, sungguh-sungguh.

        Apa maksudnya ?
        Pengalaman telah mengajarkan kepada kita, betapa banyaknya manusia-manusia yang mengaku telah beriman kepada Allah, mengaku meyakini apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan dia juga mengaku beragama Islam akan tetapi pada hakekatnya mereka tidaklah Islam. Islam hanya dijadikan topeng, cuma sekedar pajangan didalam KTP yang sewaktu marak aksi demonstrasi dipergunakan sebagai tameng didalam menindas orang-orang yang lemah, melakukan aniaya terhadap golongan minoritas serta tidak jarang dijadikan sarana untuk menipu rakyat banyak.

        Allah tidak menghendaki Islam yang demikian.
        Islam adalah agama kedamaian, agama yang mengajarkan Tauhid secara benar sebagaimana ajaran para Nabi dan Rasul serta agama yang memberikan rahmat kepada seluruh makhluk sebagai satu pegangan bagi manusia didalam menjalankan tugasnya selaku Khalifah dimuka bumi.
        Dalam surah al-Baqarah 2:208 diatas, Allah memberikan sinyal kepada umat Islam agar mau melakukan intropeksi diri, sudahkah kita benar-benar beriman didalam Islam secara kaffah ?
        Allah memerintahkan kepada kita agar melakukan penyerahan diri secara sesungguhnya, lahir dan batin tanpa syarat hanya kepada-Nya tanpa diembel-embeli hal-hal yang bisa menyebabkan ketergelinciran kedalam kemusryikan.
        Bagaimanakah jalan untuk mencapai Islam Kaffah itu sesungguhnya ?
        Al-Qur’an memberikan jawaban kepada kita :
        “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling darinya, sedang kamu mendengar perintahNya.”
        (Qs. al-Anfaal 8:20)
        Jadi Allah telah menyediakan sarana kepada kita untuk mencapai Islam yang kaffah adalah melalui ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya serta tidak berpaling dari garis yang sudah ditetapkan.
        Taat kepada Allah dan Rasul ini memiliki aspek yang sangat luas, akan tetapi bila kita mengkaji al-Qur’an secara lebih mendalam lagi, kita akan mendapati satu intisari yang paling penting dari ketaatan terhadap Allah dan para utusan-Nya, yaitu melakukan Tauhid secara benar.
        Tauhid adalah pengesaan kepada Allah.
        Seringkali manusia lalai akan hal ini, mereka lebih banyak berlaku sombong, berpikiran picik laksana Iblis, hanya menuntut haknya namun melupakan kewajibannya. Tidak ubahnya dengan orang kaya yang ingin rumahnya aman akan tetapi tidak pernah mau membayar uang untuk petugas keamanan.
        Banyak manusia yang sudah melebihi Iblis.
        Iblis tidak pernah menyekutukan Allah, dia hanya berlaku sombong dengan ketidak patuhannya untuk menghormati Adam selaku makhluk yang dijadikan dari dzat yang dianggapnya lebih rendah dari dzat yang merupakan sumber penciptaan dirinya.
        Manusia, telah berani membuat Tuhan-tuhan lain sebagai tandingan Allah yang mereka sembah dan beberapa diantaranya mereka jadikan sebagai mediator untuk sampai kepada Allah. Ini adalah satu kesyirikan yang besar yang telah dilakukan terhadap Allah.

        “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan pendeta-pendeta mereka sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah, juga terhadap al-Masih putera Maryam; padahal mereka tidak diperintahkan melainkan agar menyembah Tuhan Yang Satu; yang tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
        (Qs. at-Taubah 9:31)
        “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, namun mereka berkata: “Mereka itu penolong-penolong kami pada sisi Allah !”. Katakanlah:”Apakah kamu mau menjelaskan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan dibumi ?”. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
        (Qs. Yunus 10:18)
        Bagaimana orang Islam dapat melakukan satu kesyirikan kepada Allah, yaitu satu perbuatan yang mustahil terjadi sebab dia senantiasa mentauhidkan Allah ?
        Sejarah mencatatkan kepada kita, berapa banyak orang-orang Muslim yang melakukan pemujaan dan pengkeramatan terhadap sesuatu hal yang sama sekali tidak ada dasar dan petunjuk yang diberikan oleh Nabi.
        Dimulai dari pemberian sesajen kepada lautan, pemandian keris, peramalan nasib, pemakaian jimat, pengagungan kuburan, pengkeramatan terhadap seseorang dan seterusnya dan selanjutnya.
        Inilah satu bentuk kesyirikan terselubung yang terjadi didalam diri dan tubuh kaum Muslimin kebanyakan.
        Untuk itu, marilah sama-sama kita memulai hidup Islam yang kaffah sebagaimana yang sudah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul, sekali kita bersyahadat didalam Tauhid, maka apapun yang terjadi sampai maut menjemput akan tetap Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang tiada memiliki anak dan sekutu-sekutu didalam zat maupun sifat-Nya.
        Kembali kejalan Allah adalah satu hijrah yang sangat berat, godaan dan gangguan pasti datang menerpa kita dan disanalah kita dipesankan oleh Allah untuk melakukan jihad, melakukan satu perjuangan, melibatkan diri dalam konflik peperangan baik dengan harta maupun dengan jiwa.
        Dengan harta mungkin kita harus siap apabila mendadak jatuh miskin atau juga melakukan kedermawanan dengan menyokong seluruh aktifitas kegiatan Muslim demi tegaknya panji-panji Allah; berjihad dengan jiwa artinya kita harus mempersiapkan mental dan phisik dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi akibat ketidak senangan sekelompok orang atau makhluk dengan hijrah yang telah kita lakukan ini.
        “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan ridho dan di-ridhoi; Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”(Qs. al-Fajr 89:27-30)

      • Terima kasih Saudara Wawan. Saya bangga dengan apa yang Saudara Wawan perjuangkan sesuai dengan pemikiran, kepercayaan ataupun keyakinan yang Saudara Wawan anut. Saya paham niat Saudara Wawan sangat baik dalam diskusi ini.

        Saya tidak mengagungkan rasio/logika(akal pikiran). Logika diciptakan dan diadakan oleh Tuhan tentu ada maksudnya. Logika diberikan kepada manusia agar manusia mampu melakukan pencarian, penemuan, pembelajaran, pemahaman, perenungan, penghayatan, penerapan beserta penyempurnaan poin-poin kebaikan, kebenaran juga kesejatian sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dulu. Saya memutuskan netral dan lebih cenderung mengandalkan logika karena beragam bentuk doktrin maupun dogma termasuk agama-agama yang ada saat ini jadi samar karena kondisi masyarakat juga kondisi kebanyakan tokoh agama yang memprihatinkan. Saya mempunyai niat yang baik di balik sikap yang saya ambil.

        Iya benar ada foto saya dengan Eyang Subur dan Eyang Sigit. Dekat sih tidak, kenal saja. Itu foto beberapa hari yang lalu saya sempat silaturahmi ke rumah Eyang Subur di Jakarta. ^_^

  4. Wawan berkata:

    .Salam hangat Untuk Pak Aditya yang baik.
    Terima kasih Bapak masih bersedia berdiskusi dengan saya.

    Ini adalah salah satu paragrap jawaban dari Bapak, dimana menunjukan ketidakkonsistenan Bapak dalam menjawab : Coba perhatikan : Kalimat : Saya tidak mengagungkan rasio/logikla (akal pikiran)……………………………………saya memutuskan netral dan lebih cendrung mengandalkan logika karena beragam bentuk doktrin ……(dan seterusnya). jelas dalam hal ini Bapak tidak konsisten. Perhatikan kalimat lengkapnya seperti yang saya kutif di bawah ini:

    “Saya tidak mengagungkan rasio/logika(akal pikiran). Logika diciptakan dan diadakan oleh Tuhan tentu ada maksudnya. Logika diberikan kepada manusia agar manusia mampu melakukan pencarian, penemuan, pembelajaran, pemahaman, perenungan, penghayatan, penerapan beserta penyempurnaan poin-poin kebaikan, kebenaran juga kesejatian sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dulu. Saya memutuskan netral dan lebih cenderung mengandalkan logika karena beragam bentuk doktrin maupun dogma termasuk agama-agama yang ada saat ini jadi samar karena kondisi masyarakat juga kondisi kebanyakan tokoh agama yang memprihatinkan. Saya mempunyai niat yang baik di balik sikap yang saya ambil’.

    Islam sangat menghormati penggunaan akal dan itulah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya (Lihat QS Ali Imran : Ayat 190-191). Tetapi penggunaan akal tersebut harus tetap tunduk kepada wahyu Alloh (Quran) dan tidak boleh meletakan akal di atas segala-galanya.

    Hal lain yang ingin saya tegaskan kalaulah ada oknum-oknum tokoh agama yang memprihatinkan, coba tunjukan kepada saya data dan fakta mana yang lebih besar jumlah oknum tokoh agama yang memprihatinkan dibandingkan dengan jumlah tokoh agama yang tetap konsisten menjalankan risalah dakwah Nabawiyah…??? Kalau perlu Bapak sebutkan nama-nama mereka…!!!

    Demikian jawaban saya, Oh…iya mengenai Subur dan Sigit kelihatannya Bapak bangga sekali berfoto dengan mereka. Apakah Bapak juga menjalankan praktek dan pemahaman seperti mereka??? Atau Bapak salah seorang pengagum mereka???

    Coba Pak, baca artikel ini :

    Terbukti Sesat, MUI Minta Eyang Subur Bertobat
    Senin, 22 April 2013 14:13 wib
    Egie Gusman – Okezone

    JAKARTA- Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi mengeluarkan fatwa sesat untuk ajaran Eyang Subur. Pria yang banyak dikenal di kalangan artis itu dianggap melakukan penyimpangan akidah dan syariat Islam.

    Hampir dua pekan ini, MUI membentuk tim investigasi terkait pertikaian Eyang Subur dengan Adi Bing Slamet. Adi menuding bekas guru spiritualnya itu mengajarkan ajaran sesat seperti melarang salat dan melakukan praktik perdukunan.

    Setelah memanggil Adi Bing Slamet dan Eyang Subur, MUI berkesimpulan ajaran Eyang Subur sesat karena melakukan praktik perdukunan. Ditambah lagi, Subur memiliki delapan istri dalam waktu bersamaan. Karena itu, MUI meminta Eyang Subur segera bertobat.

    Kita berunding, berdiskusi, dan ternyata ditemukannya praktik perdukunan dan penyimpangan syariat istri Subur lebih dari empat. Kami juga mengimbau kepada umat Islam supaya hati-hati terhadap praktik perdukunan dan praktik peramalan. Kita harapkan mereka menghentikan praktiknya dan kembali sadar ke ajaran agama yang benar,” kata Ketua Investigasi MUI, Umar Shihab saat ditemui di kantor MUI, Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (22/4/2013).

    Atau Pak Aditya Baca yang ini aja :

    FATWA MUI: Akidah Eyang Subur Menyimpang dari Islam

    JAKARTA– Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa paham dan pengamalan keagamaan Eyang Subur menyimpang dari akidah dan syariah Islam karena melakukan praktik perdukunan dan ramalan.

    “Atas dasar itu, MUI meminta Saudara Subur untuk bertaubat dan kembali ke jalan yang lurus,” kata Ketua MUI KH Ma’ruf Amin di Jakarta, Senin (23/4).

    Fatwa MUI tersebut dikeluarkan setelah Tim MUI melakukan investigasi, pengkajian dan klarifikasi terhadap paham dan pengamalam keagamaan Eyang Subur secara cermat, teliti dan hati-hati sejak 8-20 april 2013.

    Tim MUI menemukan bahwa praktik keagamaan yang bertentangan dari pokok-pokok syariah oleh Eyang Subur dengan menikahi wanita lebih dari empat orang dalam waktu bersamaan.

    Juga ditemukan adanya praktik perdukunan dan peramalan oleh Eyang Subur yang dibuktikan oleh kesaksian sejumlah orang yang jumlahnya sangat sulit untuk terjadinya kebohonggan serta indikasi kuat dalam proses klarifikasi yang menunjukkan adanya praktik dimaksud.

    Untuk itu, MUI meminta Eyang Subur melepaskan wanita yang selama ini berkedudukan sebagai istri kelima dan seterusnya serta menghentikan praktik perdukunan dan peramalan.

    Ma’ruf Amin menambahkan Eyang Subur dinilai telah melakukan penyimpangan, tapi belum sampai pada penodaan agama.

    “Apabila dia tidak bertobat maka MUI akan menyampaikan ini ke pihak kepolisian untuk diproses, sebab MUI tidak punya wewenang untuk mengeksekusi. Tapi kalau Subur mau bertobat kita bina supaya dia menjadi orang yang lurus,” tambah Ma’ruf Amin.

    Lebih lanjut MUI meminta Eyang Subur membuat pernyataan bertaubat, dan lebih lanjut MUI akan memantau apakah dia akan berubah atau tidak.

    Terhadap pengikut Eyang Subur karena keputusan MUI menyatakan ia menyimpang dengan demikian pengikutnya juga diminta berhenti untuk mengikuti Eyang Subur.

    MUI juga meminta agar masyarakat terutama umat Islam tidak terprovokasi dan jangan sampai fatwa MUI jadikan dalih untuk digunakan melakukan tindak kekerasan. (Antara/if)

    Source : Newswire

    Editor : Ismail Fahmi – Senin, 22 April 2013, 19:23 WIB BISNIS.COM.

    ***

    Eyang Subur Dinilai MUI Zina Terbuka

    JAKARTA–Kontroversi Eyang Subur yang diperdebatkan selama ini terjawab. Majelis Ulama Indonesia (MUI) memastikan pria tua yang memiliki delapan istri itu telah mengajarkan kesesatan. Bahkan melakukan praktik perzinaan secara terbuka.

    Ketua Fatwa MUI Ma”ruf Amin menyatakan Eyang Subur harus menceraikan empat istri lainnya. Sebab, dalam ajaran Islam tidak dibenarkan menikah lebih dari empat wanita. ’’Maka pernikahan kelima dan seterusnya itu tidaklah sah,’’ kata Ma”ruf Amin saat menyampaikan putusan MUI tentang beristri lebih dari empat dalam waktu bersamaan di kantor MUI, Jakarta, Senin (22/4).

    Menurutnya ajaran Islam mengakui pernikahan kepada empat perempuan. Itu pun dengan sejumlah kriteria yang dijelaskan dalam Alquran. Tidak bisa menikah empat dalam pemahaman di luar Alquran.

    Sedangkan istri kelima dan seterusnya tidak diajarkan dalam agama Islam. Terhadap istri kelima dan seterusnya dengan menggaulinya tidaklah sah. Dapat masuk tindakan perzinaan yang diharamkan agama.

    ’’Wanita kelima dan seterusnya itu wajib dipisahkan karena tidak sesuai ketentuan syariah,” imbuh ulama berkacamata itu.

    Ditanya soal praktik perdukunan, Ma”aruf menegaskan sangat tidak dibenarkan. Termasuk melakukan praktik perdukunan yang sudah jelas haram. Dia menyebutkan praktik perdukunan dan peramalan sudah dipastikan merupakan ajaran sesat. MUI pun telah menerbitkan fatwa terkait persoalan itu sejak lama. ’’Soal perdukunan dan peramalan itu sudah tertuang dalam Fatwa MUI No.2/MunasVII/6/2005,’’ pungkasnya.

    Bukan hanya praktiknya yang haram. Mempublikasikan praktik perdukunan (Kahanah) dan peramalan (iraafah) juga termasuk tindakan haram. Dalam bentuk apapun mempublikasikannya menjadi sesat.

    Tak itu saja. Dia menyebutkan memanfaatkan, menggunakan dan atau mempercayai segala praktik perdukunan dan peramalan hukumnya juga haram. ’’Maka pengikutnya yang dari kalangan manapun sudah pasti termasuk kelompok haram itu,’’ terangnya.

    Lebih lanjut Ma”ruf Amin menjelaskan terhadap Eyang Subur diminta segera bertaubat. Menghentikan segala tindak kesesatan tersebut. Sekaligus meluruskan pemahaman syariah dan akidahnya terhadap agama Islam.

    Eyang Subur pun diminta menghentikan praktik perdukunan yang dilakukan selama ini. Pengikutnya juga diharapkan dapat kembali pada pemahaman Islam yang sebaiknya. Tidak lagi mengikuti dan menerapkan kesesatan yang disampaikan Eyang Subur.

    Wakil ketua Fatwa MUI, Asrorun Ni”am Sholeh menambahkan tindakan kesesatan yang dilakukan Eyang Subur tak bisa ditoleransi lagi. Segala tindakan yang menyesatkan itu sangat merugikan orang lain. Sudah waktunya dihentikan secepatnya.

    Terhadap istri kelima beserta anak-anaknya, dia meminta tetap menjadi tangung jawab Eyang Subur. Untuk memberikan segela kebutuhan hidupnya sebagai bukti tanggung jawab sosial. (rko) jpnn.com Selasa, 23 April 2013 , 06:08:00

    Okay Pak Aditya, terima kasih atas waktu Bapak untuk kembali menelaah tulisan dan artikel yang saya kirimkan, semoga hidayah Alloh menghampiri kita semua.

    Salam hormat

    Wawan Hermawan

    • Saudara Wawan, mengandalkan logika tidak sama dengan mengagungkan logika. Menurut saya, kita harus membedakan mana yang benar-benar wahyu Tuhan dan mana yang bukan. Membedakannya tentu harus menggunakan logika namun tentunya yang jernih nan sehat. Masalahnya kita sekarang ini kan terima jadi kitab berisi wahyu bukan kita diberi wahyu sama Tuhan langsung. Sudah begitu, tokoh-tokoh pelopor agama terkait wahyu-wahyu tertulis itu kan sudah wafat. Ini sedikit jawaban saya yang singkat tapi padat mengenai rasio/logika(akal pikiran).

      Mengenai Eyang Subur dan Eyang Sigit dengan segala permasalahannya, itu urusan mereka bukan urusan saya. Saya pribadi sementara ini masih netral-netral saja dalam masalah itu. Kita lihat saja bagaimana nanti perkembangan selanjutnya. ^_^

      • Wawan berkata:

        Terima kasih Pak atas tanggapannya :

        Saya katakan sebelumnya penggunaan akal sangat dihargai dalam Islam, tapi tetap hal tersebut harus tunduk dengan ketentuan Quran dan Sunah Nabi. Jadi Quran dan Sunah Nabi harus diletakan sebagai sandaran kita dalam penggunaan akal. Mengandalkan akal dengan mengagungkan akal HANYA BEDA TIPIS pak.

        Bapak sudah katakan dalam tanggapan Bapak sebelumnya bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi penutup, jadi jelaslah bahwa setelah beliau tidak ada lagi yang menerima wahyu. Kalau ada yang berani menerima wahyu ADALAH PENDUSTA YANG NYATA. Saya dapat simpulkan bahwa Bapak ragu dengan kebenaran Al-Quran apalagi Sunah Nabi itu sih terserah Bapak, cuma saya mempunyai kewajiban untuk berdakwah mencegah orang dari kesesatan.

        Tokoh agama atau para ulama memang banyak yang sudah wafat, tapi apakah Bapak tidak berfikir dengan akal sehat Bapak, bahwa masih ribuan bahkan jutaan ulama yang masih hidup sekarang yang masih tetap konsisten membela Quran dan Sunnah Nabi, dan kita bisa belajar dari mereka.

        Dalam tulisan Bapak sering mengulang-ulang kata “menurut saya pribadi” nah…kalau pendapat pribadi itu sesuai dengan tuntunan Wahyu dalam hal ini Quran (karena Bapak Muslim, saya tidak menyebut kitab lain) tentu itu bermanfaat selama dasarnya ke ilmuan, tapi kalau “menurut saya pribadi” itu bertentangan dengan Quran dan Sunnah Nabi ITU NAMANYA MENYESATKAN.

        Masalahi Subur dan Sigit , saya hanya klarifikasi saja Pak, soal tidak hubungan apa-apa dengan Bapak, saya ucapkan Alhamdulillah. Karena sekarang orang suka terbalik-balik Paranormal/Dukun malah dijadikan panutan sudah tahu menyesatkan malah jadi teladan dan ikutan.

        Demikian tanggapan singkat saya, o iya, apakah Bapak sering ada di Bandung ?apabila memungkinkan kita bisa diskusi secara terbuka sehingga semuanya lebih jelas.

        Demikian dan terima kasih.
        Salam hormat,

        Wawan Hermawan

      • Alqur’an maupun Al-Hadits mesti dibuktikan dulu kebenarannya 100% murni berasal dari Allah dan Nabi Muhammad. Pembuktiannya harus mengandalkan rasio/logika(akal pikiran). Kalau tidak dibuktikan dengan logika terlebih dahulu secara jernih nan sehat, sama saja dengan jahiliyah namanya. Sudah 100% terbukti, baru diikuti sepenuhnya. Seperti ini sikap manusia semestinya menyikapi ajaran agama yang sudah ada turun-temurun.

        Wahyu itu intinya kan komunikasi dari Tuhan kepada manusia. Wahyu itu bukan diperuntukkan kepada Para Nabi atau Rasul saja. Tuhan berhak dan bebas sekehendak-Nya mau berkomunikasi atau memberikan wahyu kepada siapapun yang Ia inginkan. Janganlah kita membatasi hak paten Ilahi. Sesungguhnya tidaklah pantas seorang manusia memvonis sesat kepada orang lain dengan dasar apapun. Hanya Tuhan yang berhak memvonis hal tersebut.

        Yang saya maksud dengan tokoh-tokoh pelopor agama yang telah wafat di jawaban sebelumnya adalah seperti Nabi Muhammad bukan para Ulama.

        Anda juga perlu memahami bahwa spiritualis dan supranaturalis sejati berbeda dengan dukun, paranormal, peramal ataupun tukang sihir. Saya tidak sama dengan Eyang Subur ataupun Eyang Sigit. Saya pribadi menilai pihak mereka ada benar juga ada salahnya. Pihak Adi Bing Slamet dkk pun ada benar juga ada salahnya. Saya netral dalam hal tersebut saat ini.

        Saya kadang di Bandung kadang di Jakarta. Sering keliling nusantara juga. Semoga nanti kalau Tuhan berikan kesempatan, kita bisa bertemu langsung untuk silaturahmi plus diskusi.

        Terima kasih. Salam Segala Salam. ^_^

  5. Wawan berkata:

    BEBERAPA BUKTI KEOTENTIKAN AL QURAN (JAWABAN SINGKAT UNTUK PENCARI TUHAN: Revisi atau YANG TAK PERCAYA KEPADANYA)
    oleh MUALAF

    BEBERAPA BUKTI KEOTENTIKAN AL QURAN (JAWABAN SINGKAT UNTUK PENCARI TUHAN: Revisi atau YANG TAK PERCAYA KEPADANYA)

    TANTANGAN ALLAH subhanahu wa ta’aala

    Al Quran adalah Kitab petunjuk kehidupan, sabda, firman dari Tuhan. Namun sebagian manusia tak mempercayainya. Maka setidaknya, untuk membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran Al Quran, Alloh subhanahu wa ta’aala azza wa jalla tak segan menyindiri, menantang dengan jelas semua makhluk, untuk:

    1. Menyusun yang semacam Al Quran secara keseluruhan:

    Al Quran Surat Ath Thuur ayat 34 (52:34): Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar

    2. Menyusun sepuluh surat saja semacam Al Quran:

    Al Quran Surat Huud ayat 13 (11:13):

    Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Alloh, jika kamu memang orang-orang yang benar”

    3. Menyusun satu surat saja semacam Al Quran:

    Al Quran Surat Yunuus ayat 38 (10:38):

    Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Alloh, jika kamu orang yang benar.”

    4. Menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan salah satu surat dari Al Quran:

    Al Quran Surat Al Baqarah ayat 23 (2:23):

    Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah [*] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Alloh, jika kamu orang-orang yang benar.

    [*] Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad sholollohu‘alaihi wasallam.

    Di dalam Al Quran, sebagaimana berbagai ciptaan Alloh subhanahu wa ta’aala dalam khazanah pembagian yang Kauniyah (tersirat) dan yang Qauliyah (tersurat), maka sungguh terkandunglah berbagai rahasia, makna, aturan, ilmu-pengetahuan, perjanjian, hukum, bahkan insya Alloh kekuatan rahasia, dan sebagainya yang kiranya tak diketahui manusia; yang juga tersirat (dan bahkan tidak terlihat, ghaib, atau belumlah lagi atau tidaklah diketahui) maupun yang tersurat (yang dapat terlihat jelas).

    Berbagai hal itu, bahkan baru dapat diungkapkan jauh berabad-abad setelah turunnya Al Quran , dan bahkan hingga kini, masih banyak hal yang belum dapat ditafsirkan oleh manusia dan jin dengan segala ilmu pengetahuan yang telah didapatkannya. Jelas diterangkan bahwa ada ayat-ayat yang mutasyabihaat (memerlukan penafsiran dan penjelasan lebih lanjut) dan muhkamaat (sudah jelas):

    Al Quran Surat Aali Imraan ayat 7 (3:17):

    Beliau-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yangmuhkamaat [1], itulah pokok-pokok isi Al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat [2]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Alloh. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

    [1] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.

    [2] Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Alloh yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari Kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

    Barangsiapa mengulas Al Quran tanpa ilmu pengetahuan maka bersiaplah menduduki neraka. (HR. Abu Dawud)

    Abu Tsa’labah Al-khusyani Jurtsum bin Nasyir rodhiyallahu ‘anhu.. meriwayatkan dari Rosululloh sholollohu‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Alloh subhanahu wa ta’aala telahmenetapkan beberapa kewajiban, janganlah engkau menyepelekannya (meremehkannya), telah menentukan sanksi-sanksi hukum, janganlah engkau melanggar, telah pula mengharamkan beberapa hal, maka janganlah engkau jatuh kedalamnya. Beliau juga mendiamkan beberapa hal karena kasih sayangNya kepada kalian bukannya lupa, maka janganlah engkau mencari-carinya.” (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ad-daruquthni, dll)

    An-Nu’man bin Basyir berkata, “Saya mendengar Rosululloh sholollohu‘alaihi wasallam bersabda, ‘Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat(syubhat atau samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Alloh adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.'” (HR. Bukhori)

    Adalah mungkin saja, seseorang atau bahkan segolongan Manusia dan Jin, membuat rangkaian syair berbahasa Arab, seindah yang dapat dibuatnya dan kemudian dikatakannya pula sebagai ayat kitab suci, bahkan dikatakannya adalah sebagai tandingan Al Quran.

    Namun semua ini, tentulah adalah hanya kata-kata, bahkan kalaupun ada keindahan, hikmah, kebajikan, di dalamnya.

    Apakah ia atau mereka dapat kiranya menjamin bahwa apa yang mereka buat itu, mengandung berbagai rahasia dunia-akhirat? Masa lalu dan masa depan? Dan lain-lain rahasia dan kekuatan?

    Maka mengenai ini, bahkan kepada para makhlukNya ini, Alloh subhanahu wa ta’aala tetap menantangnya untuk membuat yang serupa, yang antara lain seperti jelas tertera di ayat-ayat tersebut di atas.

    Marilah kita telaah lebih dalam.

    Salah satu fenomena yang menarik, dalam berbagai penurunannya atau pewahyuan Al Quran, seringkali pula berbagai ayat atau surat dari Kitab Suci Al Quran diturunkan atau diwahyukan secara’spontan’, secara ”sekonyong-konyong”, ”tiba-tiba” (yang dalam hal ini sesungguhnya adalah dalam ukuran manusia, namun tidaklah demikian bagi Alloh subhanahu wa ta’aala sebenarnya), misalnya untuk menjawab berbagai pertanyaan, berbagai serangan dari musuh-musuh Islam saat itu, atau untuk mengomentari berbagai peristiwa, dan sebagainya. Hal ini dapat ditelaah dengan jelas dalam berbagai kumpulan kisah azbabun nuzul (sebab turunnya ayat) berbagai ayat dan surat Al Quran, setidaknya saja.

    Juga turunnya ayat langsung dalam menjawab doa-pertanyaan Rosululloh sholollohu‘alaihi wasallam dan sahabat Umar bin Khottob rodhiyallahu ‘anhu, akan keharaman minuman keras atau khamr (yang saat itu adalah kegemaran bangsa Arab, bahkan bangsa Arab yang telah menjadi muslim termasuk sahabat Rosululloh sholollohu‘alaihi wasallam, Umar bin Khoththob rodhiyallahu ‘anhu) dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 219 (2:219) dan Al Quran Surat An Nisaa’ ayat 42 (4:42) serta Al Quran Surat Al Maaidah ayat 90-91 (5:90-91).

    Walaupun berbagai ayat ini turun dengan ‘tiba-tiba’, yang sungguh menakjubkan adalah bahwa setelah keseluruhan ayat Al Quran selesai diturunkan dan kemudian dilakukan penelitian terhadap berbagai hal berkaitan dengan atau tentang Al Quran ini, sungguh ditemukanlah sejumlah kenyataan yang menakjubkan, yang tak mungkin dipikirkan, dirancang, dilakukan, diutarakan, dibuat oleh seorang manusia (Rosululloh Muhammad bin ‘Abdullah bin Abdul Muthalib sholollohu‘alaihi wasallam) bahkan bila dibantu oleh masyarakatnya ataupun dilanjutkan bergenerasi sesudahnya yang sudah lebih maju pengetahuannya.

    Misalnya, tentang adanya berbagai rahasia atau isyarat ilmu pengetahuan yang baru dapat dibuktikan berabad-abad kemudian, tentang kisah-kisah sejarah, tentang berita-berita ghaib (termasuk ramalan akan masa depan), tentang keseimbangan-keteraturan susunan redaksional Al Quran atau keseimbangan-keteraturan susunan kata-katanya, dan sebagainya.

    Semakin pula lebih menakjubkan, mendukung ini semua, bila disadari kenyataan bahwa Rosululloh Muhammad bin ‘Abdullah bin Abdul Muththalib sholollohu‘alaihi wasallam adalah seorang manusia yang ummiy atau tidak dapat membaca dan menulis (atau dalam bahasa Inggris: an illiterate person).

    Dari siapakah kiranya Rosululloh sholollohu‘alaihi wasallam mendapatkan semuanya itu?

    Tidakkah ini didapatkannya dari (dalam Bahasa Sekuler) sebuah ’Sumber Kecerdasan Yang Lebih Tinggi’?

    Lebih mudahnya, kita sebut saja ’Sumber Kecerdasan Yang Lebih Tinggi’ itu sebagai, Tuhan?

    Al Quran Surat An Nisaa’ ayat 82 (4:82):

    Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

    Al Quran Surat Al An’aam ayat 115 (6:115):

    Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Beliau lah yang Maha Mendenyar lagi Maha mengetahui.

    Al Quran Surat Al Hijr ayat 9 (15:9):

    Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya [*].

    [*] Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.

    Al Quran Surat Al Mulk ayat 3-4 (67:3-4)

    (3). Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?

    (4) Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.

    ASPEK PENDUKUNG KEOTENTIKAN AL QURAN

    Dalam hal ini, ada banyak sekali aspek kuat yang mendukung keotentikan Al Quran al Karim, dan berikut ini adalah sekelumit paparan bukti dari berbagai aspek itu, yaitu:

    I aspek keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakannya

    Abdurrazaq Nafwal dalam buku atau kitab ”Al-I’jaz Al-Adabiy li Al Quran Al Karim” yang terdiri dari 3 jilid (terlepas dari berbagai pendapat pro dan kontra atau skeptis tentang isinya dan kemungkinan ketidaksempurnaan manusia penulisnya) mengemukakan berbagai contoh tentang keseimbangan ini. Ringkasannya adalah:

    1. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya (lawan katanya):

    ”Al Hayah” (hidup) dan ”Al Mawt” (mati), masing-masing sebanyak 145 kali
    ”Al Naf’” (manfaat) dan ”Al Madharrah” (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali
    ”Al Har” (panas) dan ”Al Bard” (dingin) masing-masing sebanyak 4 kali
    ”Al Shalihat” (kebajikan) dan ”Al Sayyi’at” (keburukan) masing-masing sebanyak 167 kali
    ”Al Thuma’ninah” (kelapangan atau ketenangan) dan ”Al Dhiq” (kesempitan atau kekesalan) masing-masing sebanyak 13 kali
    ”Al Rahbah” (cemas atau takut) dan ”Al Raghbah” (harap atau ingin) masing-masing sebanyak 8 kali
    ”Al Kufr” (kekufuran) dan ”Al Iman” (iman) masing-masing sebanyak 17 kali dalam bentuk definite
    ”Kufr” (kekufuran) dan ”Iman” (iman) masing-masing sebanyak 8 kali dalam bentuk indefinite
    ”Al Shayf” (musim panas) dan ”Al Syita’” (musim dingin) masing-masing sebanyak 1 kali.

    2. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya atau kesamaan makna yang dikandungnya:

    ”Al Harts” dan ”Al Zira’ah” (membajak atau bertani) masing-masing sebanyak 14 kali
    ”Al ’Ushb” dan ”Al Dhurur” (membanggakan diri atau angkuh) masing-masing sebanyak 27 kali
    ”Al Dhallun” dan ”Al Mawta” (orang sesat atau mati jiwanya) masing-masing sebanyak 17 kali
    ”Al Quran ”, ”Al Wahyu”, dan ”Al Islam” (Al Quran , wahyu, dan Islam) masing-masing sebanyak 70 kali
    ”Al ’Aql” dan ”Al Nur” (akal dan cahaya) masing-masing sebanyak 49 kali
    ”Al Jahr” dan ”Al ’Alaniyah” (nyata) masing-masing sebanyak 16 kali

    3. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya:

    ”Al Infaq” (infak) dan ”Al Ridha” (kerelaan) masing-masing sebanyak 73 kali
    ”Al Bukhl” (kekikiran) dan ”Al Hasarah” (penyesalan) masing-masing sebanyak 12 kali
    ”Al Kafiruun” (orang-orang kafir) dan ”Al Naar atau Al Ahraq” (neraka atau pembakaran) masing-masing sebanyak 154 kali
    ”Al Zakah” (zakat atau penyucian) dan ”Al Barakat” (kebajikan yang banyak) masing-masing sebanyak 32 kali
    ”Al Fahisyah” (kekejian) dengan ”Al Ghadhb” (murka) masing-masing sebanyak 26 kali

    4. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya:

    ”Al Israf” (pemborosan) dan ”Al Sur’ah” (ketergesa-gesaan) masing-masing sebanyak 23 kali
    ”Al Maw’izhah” (nasihat atau petuah) dan ”Al Lisan” (lidah) masing-masing sebanyak 25 kali
    ”Al Asra” (tawanan) dan ”Al Harb” (perang) masing-masing sebanyak 6 kali
    ”Al Salam” (kedamaian) dan ”Al Thayyibat” (kebajikan) masing-masing sebanyak 60 kali

    5. Berbagai keseimbangan khusus:

    Kata ”Yawm” (hari) dalam bentuk tunggal, adalah sejumlah 365 kali (atau adalah sama dengan jumlah hari-hari dalam satu tahun) di dalam Al Quran .
    Sedangkan kata ”hari” yang menunjuk kepada betuk plural (”Ayyam”) atau dua (”Yawmayni”), jumlah keseluruhannya dalam Al Quran adalah hanyalah 30 kali penyebutan, atau dalam hal ini adalah juga sama dengan jumlah hari dalam satu Bulan dengan mengikuti kaidah Kalender Qamariyah atau penanggalan sistem Bulan, sistem Islam atau Arab.
    Lalu, kata yang berarti ”Bulan” (”Syahr”) hanya terdapat 12 kali, atau sama dengan jumlah bilangan Bulan dalam satu tahun (12 Bulan) rotasi.
    Ada 7 kali penjelasan tentang adanya 7 langit, yaitu antara lain dalam Al Quran Surat (Qur’an Surat) Al Baqarah ayat 29, Al Quran Surat Al Isra’ ayat 44, Al Quran Surat Al Mu’minuun ayat 86, Al Quran Surat Al Fushshilat ayat 12, Al Quran Surat At Thalaq ayat 12, Al Quran Surat Al Mulk ayat 3, Al Quran Surat Nuh ayat 15.
    Selain itu, penjelasan tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam (6) hari atau masa atau tahapan, disebutkan di dalam 7 ayat pula (dan tahapan terbentuknya sebuah galaksi-planet dalam enam (6) tahapan yang memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun ini, telah pula dibuktikan oleh ilmu-pengetahuan saat ini, bahwa memanglah secara umum pembentukan Galaksi adalah dalam enam (6) tahapan, bahkan saat inipun masih terbentuk Galaksi-galaksi baru, yang masing-masing dalam (melalui) enam (6) tahapan, dalam ruang angkasa yang bahkan memuai atau meluas ini.
    Sebagai catatan, angka 7 sendiri banyak sekali ditemukan di alam semesta, di Al Quran & di Hadits Nabi Muhammad bin ‘Abdullah sholollohu‘alaihi wasallam. Bahkan pengulangan dari angka ini dalam Al Quran juga memunculkan sebuah sistem yang koheren. Beberapa fenomena angka 7 tersebut adalah, antara lain:

    Merupakan jumlah dari tingkatan langit & bumi (Al Quran Surat 65:12).

    Atom tersusun dari 7 tingkatan elektron.

    Jumlah hari dalam satu minggu.

    Jenis atau jumlah tanda (not dasar) musik.

    Jenis atau jumlah warna-warni pelangi.

    Jenis dosa besar (HR Al-Bukhori & Muslim).

    Tanda bagi siksaan pada Hari Kiamat.

    Jumlah ayat dalam Surah Al Fatihah (“Tujuh ayat yang diulang-ulang”).

    Muslim bersujud dengan menggunakan 7 anggota badan dalam Shalat.

    Muslim melakukan Thawaf sebanyak 7 kali dalam ritual Haji.

    Muslim melakukan Sa’i antara Shafa & Marwah sebanyak 7 kali dalam ritual Haji.

    Melempar jumrah sebanyak 7 kali dalam ritual Haji.

    Dalam kisah Nabi Yusuf (Josef) ‘alaihis salaam banyak menyebut angka 7 (Al Quran Surat 12: 46-48).

    Kisah siksaan kaum Nabi Hud (Hood) ‘alaihis salaam ditimpa angin topan selama 7 malam (Al Quran Surat 69:6-7).

    Kisah Nabi Musa (Moses) ‘alaihis salaam memilih 70 orang dari kaumnya untuk bertobat (Al Quran Surat:17;155).

    Kata Kiamat disebut dalam Al Quran sebanyak 70 kali.

    Kata “Jahannam” (Neraka) disebut dalam Al Quran sebanyak 77 kali.

    Jumlah pintu-pintu “Jahanam” adalah 7 (Al Quran Surat 15:44).

    Terdapat 7 surah yang diawali dengan kalimat tasbih.

    Sebagai catatan pula, angka ”tujuh” (7) dalam budaya Arab Kuno juga dapat berarti ”banyak”, karena khazanah berpikir dan kebiasaan orang Arab lama atau kuno (misalnya, orang-orang Arab di masa-masa itu saat diturunkannya Al Quran) yang menghitung jumlah tujuh (7) atau selebihnya, sebagai angka perlambang yang menunjukkan jumlah banyak atau bahkan tak terhitung (tak dapat dihitung) lagi (oleh mereka).

    Maka, sejumlah mufassir atau penafsir Al Quran dan atau atau ahli ilmu pengetahuan pun berspekulasi tentang telah disebutkannya tentang berbagai kenyataan akan adanya tak terhitung planet dan galaksi di luar bumi dalam Al Quran, dan bahkan kemungkinan adanya makhluk-makluk lain di alam semesta di luar Bumi dan sistem Solar (matahari) kita ini.

    Selain ini, berkaitan dengan dunia angka dan huruf (atau kata), juga ditemui beragam distribusi Matematika di Al Quran, khususnya mengenai bilangan-bilangan prima dan beragam hubungan luasnya, dan banyak sekali misteri dan fenomena angka juga kata di Al Quran lainnya, di balik susunan, makna,dan kemungkinan-kemungkinannya dan tata bahasa Arab sendiri (dan Bahasa Sastra Arab yang digunakan di Al Quran ) yang memang sudah luar-biasa itu.

    II Aspek bukti dari berbagai isyarat maupun pemberitaan ghaibnya

    Ada banyak sekali, namun dalam kesempata yang singkat ini, dipilihkan satu saja yang cukup fenomenal. Misalnya adalah tentang berita tentang Fir’aun dan Nabi Musa ‘alaihis salaam, dan ditemukannya jenazah Fir’aun ini. Disebutkanlah di Al Quran bahwa Fir’aun yang mengejar-mengejar Nabi Musa ‘alaihis salaam dan Bani Israil dalam perjalanan eksodus mereka keluar dari penindasan kerja-paksa Mesir berabad-abad, akan diselamatkan tubuhnya oleh Alloh subhanahu wa ta’aala, dan akan menjadi pelajaran bagi berbagai generasi berikutnya:

    Al Quran Surat Yunuus ayat 92 (10:92): Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu [*] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.

    [*] Yang diselamatkan Alloh ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem menjadi Mumi, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di Museum Mesir.

    Maka, menurut berbagai kesesuaian sejarah, Raja Mesir atau Fir’aun yang dimaksud di sini adalah Fir’aun Maniptah(Maneptah atau Merneptah), anak dari Fir’aun Ramses II (Fir’aun yang mengangkat Nabi Musa ‘alaihis salaam sebagai anaknya dan juga menyiksa kaum Bani Israil), dan muminya ditemukan oleh Loret pada sekitar awal abad XIX (tahun 1896) di Thebes atau Luxor, Lembah Kuburan Raja-raja Mesir (Wadi al Muluk).

    Setidaknya dua ahli telah meneliti muminya, yaitu Elliot Smith dan DR. Maurice Bucaille (yang disebut terakhir ini kemudian menyatakan diri masuk Islam pada akhir penelitiannya, dan menulis sebuah buku yang cukup menggemparkan, berjudul ”Bibel, Quran & Sains Modern”, dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pula), dan penelitian keduanya beserta keterangan dari Maspero (seorang Perancis ahli ilmu Sejarah Mesir) sungguh menguatkan hal ini.

    Injil sendiri, di bagian Keluaran pasal 13, 14, 28 dan di Nyanyian (Psalm) 136 dari Daud, menguatkan pula bahwa Fir’aun tersebut disebutkan mati tenggelam dalam pengejarannya kepada kaum Bani Israil yang sedang melakukan eksodus dari Mesir ke ‘Tanah Yang Dijanjikan’. Bahkan di Mazmur Daud no 136 dalam ayat 15 dari orang Yahudi, jelas menyebutkan pujian kepada “Tuhan yang telah membinasakan Fir’aun dan tentaranya dalam laut yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan”, sebagaimana kesesuaiannya pula dengan Kitab Keluaran (14, 28):

    “Air kembali pasang dan menenggelamkan kereta-kereta serta para penunggang kuda dari tentara Fir’aun yang telah masuk ke laut di belakang mereka (kelompok Yahudi). Tak ada seorang pun yang tetap hidup”.

    Namun perihal diselamatkannya jasad Fir’aun itu, tidak disebutkan di Injil, hanya disebutkan di Al Quran. Hanya di Al Quran jelas dinyatakan bahwa jenazah Fir’aun yang mengejar Nabi Musa ’alaihis salaam itu akan ditemukan manusia dan menjadi pelajaran besar.

    Janji Alloh ini, serta diketemukannya jasad Fir’aun itu, dikuatkan oleh ilmu-pengetahuan modern. Dan sekarang, jenazah Fir’aun Maneptah akhirnya disimpan di Museum Mesir di Kairo di ruang Muminya, serta dapat dilihat oleh siapapun.

    III. Aspek adanya berita-berita atau isyarat-isyarat ilmiah dari Al Quran

    Ada banyak sekali contoh tentang ini. Berikut adalah beberapa di antaranya, misalnya bahwa:

    Segalanya yang hidup diciptakan dari air:

    Pada waktu ayat ini diturunkan, tidak ada yang berpikir kalau segala yang hidup itu tercipta dari air. Sekarang, tidak ada seorang pakar pun yang membantah bahwa segala yang hidup itu tercipta dari air, yang adalah materi pokok bagi kehidupan setiap makhluk hidup.

    Sementara itu, urut-urutan penciptaan benda langit menurut Injil adalah bahwa Bumi diciptakan terlebih dulu (Kejadian 1:1), kemudian tetumbuhan (Kejadian 1:11-12), baru kemudian Matahari (Kejadian 1:14-16). Yang menarik di sini kiranya, jika menurut logika Injil, adalah bagaimana mungkin tetumbuhan dapat hidup tanpa berfotosinteis di saat itu, karena Matahari sebagai sumber energi untuk berfotosintesi diciptakan belakangan setelah tetumbuhan?

    Al Quran Surat Al Anbiyaa ayat 30 (21:30):

    Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

    Adanya aturan berpasang-pasangan atas segala sesuatu

    Al Quran yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan. Yang menarik pula, ayat ini dinyatakan di sebuah ayat dengan penomoran yang juga berpasangan (Quran Surat 36 ayat 36). Perhatikanlah bahwa bahkan Nomor Surat (36) dan Ayatnya pun (36), sama, seakan berpasangan. Entah apa artinya, wallahu a’lam bis shawab:

    Al Quran Surat Yaa Siin ayat 36 (36:36):

    Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.

    Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad sholollohu‘alaihi wasallam. Apalagi Rosululloh Muhammad bin ‘Abdullah sholollohu‘alaihi wasallam, adalah sesorang yang buta huruf (ummy) dan tak mungkin telah mempelajari ilmu Astronomi.

    Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara gamblang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.

    Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang Fisika pada tahun 1933.

    Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif.

    Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagai berikut: “…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”

    Alam semesta ini mengembang (memuai, meluas)

    Di dalam Al Quran yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana di ayat berikut ini:

    Al Quran Surat Adz Dzaariyat ayat 47 (51:47):

    Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya

    Kata “langit”, sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di banyak tempat dalam Al Quran dengan makna luar angkasa dan alam semesta. Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam Al Quran dikatakan bahwa alam semesta “mengalami perluasan atau mengembang”. Dan inilah yang kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.

    Hingga awal abad XX Masehi, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.

    Pada awal abad XX Masehi, ilmuwan Albert Einstein mengatakan bahwa alam semesta ini tidak berawal dan tidak berakhir dan sudah ada sejak dulu, dan ini dikemukakannya pada tahun 1917.

    Ketika mengamati langit dengan teleskop, di tahun 1927, Erwin Hubble – seorang astronom Amerika – menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus “mengembang”. Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang.

    Lalu Fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli Kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang. Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Dan Einstein pun merevisi pendapatnya.

    Ilmuwan Penzias dan Wilson kemudian membuat Teori Big Bang bahwa sesungguhnya langit dan bumi dulu menyatu, bahkan hanya sebesar kira-kira bola tenis, dan kemudian terjadi ledakan besar dan menjadi terpisah, menyebar ke seluruh alam semesa, termasuk menjadi aneka planet, matahari, komet, Galaksi, Nebula, dan lain-lain. Dan terciptalah kemudian air, yang menjadi dasar kehidupan. Dan ini memakan waktu milyaran tahun, termasuk penciptaan Bumi dan tata surya Bima Sakti (Milky Way) tempat kita sendiri ini.

    Kenyataan ini diterangkan dalam Al Quran pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Apalagi Rosululloh Muhammad bin ‘Abdullah sholollohu‘alaihi wasallam, adalah sesorang yang buta huruf (ummy) dan tak mungkin telah mempelajari ilmu Astronomi. Ini dikarenakan Al Quran adalah firman Alloh, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.

    Sebagai catatan, dalam ayat ini ada kata dasar ”muhsiana”, yang bermakna ”pengembangan” atau ”berkembang”. Secara tradisional, para mufassir memilih kalimat ”Kami benar-benar berkuasa” daripada alternatif ”Kami benar-benar mengembangkannya”, yang menggambarkan ruang angkasa yang memuai. Kesalahan atau ketidakuratan penafsiran ini, adalah sama seperti penafsiran kata ”Al ’Alaq” dalam berbagai ayat Al Quran , yang secara tradisional diartikan sebagai ”segumpal darah” daripada ”sesuatu yang melekat”. Pembahasan lebih dalam mengenai ketidakakuratan ini, ada di bagian lain dari tulisan ini.

    Matahari adalah (sumber) cahaya (diya’) dan Bulan adalah sebagai pelita (nuur)

    Al Quran Surat Nuh ayat 15-16 (71:15-16):

    (15) Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Alloh telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?

    (16) Dan Alloh menciptakan padanya Bulan sebagai cahaya dan menjadikan Matahari sebagai pelita?

    Dengan ilmu pengetahuan, kini kita mengetahui bahwa Matahari adalah sumber energi yang memancarkan cahaya dan Bulan hanyalah memantulkan cahaya yang diterimanya dari Matahari itu. Dulu, manusia dengan tingkat pengetahuan sederhana pada jaman Rosululloh sholollohu‘alaihi wasallam, dapat dengan mudah menerima kalimat-kalimat sederhana dan masuk akal ini (perbandingan sederhana antara Matahari sebagai pelita dan Bulan sebagai cahaya itu).

    Namun kalimat-kalimat sederhana inipun ternyata dapat berarti dalam, serta dapat diterima oleh bahkan para ahli ilmu-pengetahuan bahkan di luar komunitas Rosululloh sholollohu‘alaihi wasallam, dan yang hidup berabad-abad kemudian, yang sangat senang mengunakan ilmu-pengetahuan sains modern atau pos-modern untuk memahami segala sesuatu. Ini memuaskan semua kalangan pencari kebenaran. Dan ini adalah salah satu hikmah dari Al Quran.

    Benda langit bergerak dalam jalurnya (garis edarnya) masing-masing

    Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Quran, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu, bahkan keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan dalam Al Quran sebagai berikut:

    Al Quran Surat Al Anbiyaa ayat 33 (21:33):

    Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

    Juga Al Quran Surat Yaa Siin ayat 38 (36:38), Surat Ar Rahmaan ayat 5 (55:5), Surat Adz Dzaariyaat ayat 7 (51 :7).

    Kata ”Yasbahuun” dalam ayat Al Quran Surat Al Anbiyaa ayat 33 ini, berasal dari kata ”sabaha” yang makna kata secara tradisionalnya adalah ”gerakan dari sesuatu yang bergerak”, yang dalam hal ini, dalam kaitannya dalam kaidah ilmu ruang angkasa ini, adalah tentang penggambaran pergerakan atau rotasi dirinya (planet Bulan dan Matahari itu) dalam aksisnya sendiri.

    Sebagai informasi-informasi tambahan dari disiplin ilmu Astronomi dan Sejarah serta Kekristenan, saat ini manusia sudah jamak mengetahui bahwa Matahari membutuhkan 25 hari untuk menuntaskan rotasinya dan Bumi mengelilingi Matahari. Namun baru pada tahun 1512 Masehi, Nicolaus Copernicus mengemukakan Teori Heliosentrisnya tentang letak Matahari yang dikelilingi planet yang bergerak dalam jalurnya masing-masing.

    Ini juga didukung penelitian Galileo Galillei, dan saat itu pengumuman temuan ini ditentang habis-habisan oleh Gereja, juga menjadikan Copernicus dikucilkan, bahkan sebagian kalangan menyebutkan bahwa ia dikafirkan mereka.

    Barulah pada abad-abad modern ini, sekitar 500 tahun kemudian, Vatikan kemudian bersedia mengakui kebenaran teori Copernicus dan kesalahan klaim Gereja berdasarkan Injil itu, yang memaknakan bahwa Mataharilah yang bergerak mengelilingi Bumi (antara lain di Joshua 10:12-13), bukan sebaliknya, yang jelas sangat bertentangan dengan ilmu-pengetahuan.

    Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Quran ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.

    Menurut para Ahli Astronomi-Fisika, terdapat sekitar 200 milyar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah “berenang” sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.

    Dan garis edar ini tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa, galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.

    Sebagai pendukung materi pembahasannya, berikut adalah sebuah kutipan dari Injil versi internasional (King James Version) dan komentar tentang kesalahannnya yang dikutip dari sebuah situs tentangnya, yang bernama ”The Dark Bible” (dengan alamat http: atau atau http://www.nobeliefs.com atau darkbible atau darkbible atau ), sebuah situs yang mengupas tentang berbagai kesalahan dan ketidakmasukakalan Injil. Pembuat situs ini adalah Jim Walker, orang Barat yang Atheis (tidak mempercayai adanya Tuhan) yang dulunya beragama Kristen.

    Heliocentric Vs Geocentric? The Sun Stands Still: “Then spake Joshua to the LORD in the day when the LORD delivered up the Amorites before the children of Israel, and he said in the sight of Israel, Sun, stand thou still upon Gibeon; and thou, Moon, in the valley of Ajalon. And the sun stood still, and the moon stayed, until the people had avenged themselves upon their enemies. Is not this written in the book of Jasher? So the sun stood still in the midst of heaven, and hasted not to go down about a whole day.” (Joshua 10:12-13) Comment: These verses imply that the sun moves around the earth. If the Bible actually represents the words or inspired words of God, then why didn’t the Great Creator inspire them to tell the truth about the universe and our solar system? Also, the Bible asks us to believe that a supposedly loving God made the sun stand still for the sole purpose of helping the Israelites slaughter the Amorites. How can one not see that these verses would insult the intelligence of any person who believes God possess wisdom, knowledge and love?

    Maka, beberapa hal dalam Injil ini, sangat bertentangan dengan ilmu-pengetahuan, dan dengan Akal.

    Dapat dipastikan bahwa pada saat Al Quran diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya, saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa “dipenuhi lintasan dan garis edar” sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut.

    Apalagi Rosululloh Muhammad bin ‘Abdullah sholollohu‘alaihi wasallam, adalah sesorang yang buta huruf (ummy) dan tak mungkin telah mempelajari ilmu Astronomi.

    Akan tetapi, hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam Al Quran yang diturunkan pada saat itu, dab benar, karena Al Quran adalah firman Tuhan, Alloh.

    Adanya lautan yang tidak bercampur satu sama lain

    Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Quran sebagai berikut:

    Al Quran Surat Ar Rahman ayat 19-20 dan 22 (55:19-20, 22):

    Beliau membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing … Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.

    Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93). Dari keduanya, dapat digali berbagai kekayaan alam khususnya mutiara dan marjan.

    Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Quran. Suatu fenomena lain yang sering kita dapatkan adalah bahwa air lautan yang asin, dengan air sungai-sungai besar yang tawar tidak bercampur seketika.

    Orang dapat mengira bahwa Al Quran membicarakan sungai Euphrat dan Tigris yang setelah bertemu dalam muara, kedua sungai itu membentuk semacam lautan yang panjangnya lebih dari 150 km, dan dinamakan Syath al Arab.

    Di dalam teluk, pengaruh pasang-urutnya air menimbulkan suatu fenomena yang bermanfaat, yaitu masuknya air tawar ke dalam tanah sehingga menjamin irigasi yang memuaskan. Untuk memahami teks ayat ini, kita harus ingat bahwa lautan adalah terjemahan kata bahasa Arab “Bahr” yang berarti sekelompok air yang besar, sehingga kata itu dapat dipakai untuk menunjukkan lautan atau sungai yang besar seperti Sungai Nil, Tigris dan Euphrat.

    Dan ayat yang memuat fenomena tersebut adalah sebagai berikut:

    Al Quran Surat Al Furqan ayat 53 (25:53):

    Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit, Beliau jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.

    Juga Al Quran Surat Faathir ayat 12 (35:12).

    Selain menunjukkan fakta yang pokok, ayat-ayat tersebut menyebutkan kekayaan-kekayaan yang dikeluarkan dari air tawar dan air asin yaitu ikan-ikan dan hiasan badan: batu-batu perhiasan dan mutiara.

    Mengenai fenomena tidak campurnya air sungai dengan air laut di muara-muara hal tersebut tidak khusus untuk Tigris dan Euphrat yang memang tidak disebutkan namanya dalam ayat walaupun ahli-ahli tafsir mengira bahwa dua sungai besar itulah yang dimaksudkan.

    Sungai-sungai besar yang menuang ke laut seperti Missisippi dan Yang Tse menunjukkan keistimewaan yang sama; campurnya kedua macam air itu tidak terlaksana seketika tetapi memerlukan waktu.

    Rahasia proses reproduksi manusia

    Al Quran Surat Al Hajj ayat 5 (22:5):

    Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari ’segumpal darah’ atau ’sesuatu yang melekat’, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

    Lalu, setidaknya, kata ”Al ’Alaq” seperti di ayat ini disebutkan dalam 4 ayat lain yang membicarakan transformasi urut-urutan reproduksi manusia sejak tahap setetes sperma:

    Juga Al Quran Surat Al Mu’minuun ayat 14 (23:14), Surat Al Mu’miin ayat 67 (40:67), Surat Al Qiyaamah ayat 37-38 (75:37-38), Surat Al ‘Alaq ayat 1 (96:1).

    Maka, khusus perihal kata ”Al ’Alaq” ini, secara tradisional, penerjemahan Al Quran kuno atau tradisional, seringkali kata ini ditafsirkan atau diartikan saja sebagai ”segumpal darah” atau ”darah beku (tidak mengalir)” oleh berbagai penerjemah dan mufassir atau penafsir. Dan ini jamak dijumpai di berbagai terjemahan bahkan tafsir Al Quran di seluruh dunia.

    Jika kata itu mutlak diartikan “segumpal darah”, hal ini dapat tidak masuk akal, karena tidak pula sesuai dengan ilmu pengetahuan tentang proses reproduksi manusia, karena sesunguhnya ilmu pengetahuan reproduksi manusia mengkonfirmasikan bahwa tidak pernahlah manusia tercipta melalui tahapan ’gumpalan darah’, dalam rangkaian tahap reproduksinya.

    Dengan demikian, derajat keotentikan Al Quran dalam hal ini pun (jika tetap memakai terjemahan kata ”segumpal darah”) dapat saja menjadi dianggap gugur (setidaknya bagi sebagian kalangan), dan segolongan manusia serta makhluk lain yang membaca Al Quran dapat menjadi kafir bahkan murtad karenanya, karena dapat menganggap paparan penciptaan manusia yang demikian tidak sesuai dengan ilmu-pengetahuan. Ini dapat menjadi berbahaya, dan tentu saja dapat menjadi tidak sepatutnya, karena Al Quran adalah dari Tuhan Pencipta Semesta Alam.

    Namun, Tuhan Semesta Alamlah yang memang menjaga keotentikannya, dan Al Quran tentu saja tetap benar sebagai petunjuk sepanjang jaman. Penjelasannya, jika kita menilik kepada ilmu reproduksi ini sendiri, ternyata menetapnya telur dalam rahim terjadi karena tumbuhnya jonjot (villosities) atau perpanjangan telur yang akan mengisap dari dinding rahim, zat yang diperlukan untuk membesarnya telur, seperti layaknya akar tumbuhan yang masuk ke tanah, melekat kepada dinding rahim. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telur dalam rahim.

    Inilah yang layak disebut, diterjemahkan korelatif sebagai ”sesuatu yang melekat (atau Al ’Alaq)”, secara spekulatif ilmiah.

    Makna yang lebih tepat dari kata ”Al Alaq” karenanya adalah, ”sesuatu yang melekat”, bukan ”segumpal darah (beku)”, yang, saat manusia belum dapat mengetahui jalannya proses reproduksi (manusia) ini, pemakaian kata ”sesuatu yang melekat” daripada kata ”segumpal darah (beku)”, terlihat lebih tidak masuk akal bagi para mufassir tradisional; padahal sesungguhnya justru sebaliknya.

    Dan sekali lagi, pengetahuan manusia tentang ini baru didapatkan manusia pada jaman yang kemudian disebut sebagai jaman Modern, berabad-abad sesudah Al Quran diturunkan, tak lama sebelum jaman kita ini.

    Tidaklah mengherankan kiranya, betapa berabad-abad lalu, banyak para penerjemah dan mufassir (penafsir) tradisional yang sewajarnya tidak (banyak) mengetahui kaidah ilmu kedokteran, secara mudahnya menerjemahkan kata ”Al ’Alaq” ini sebagai ”segumpal darah” saja, dalam ayat-ayat itu.

    Penerjemahan seperti itu, terlihat cukup masuk akal di saat itu, mereka sungguh telah berusaha sebaik-baiknya dengan segala pengetahuan yang mereka miliki, tentulah kesalahan manusiawi ini dapat dimaafkan, tinggal bagaimana baiknya ke depan.

    Dan bagaimanapun juga tafsirnya, Al Quran tetaplah tuntunan kehidupan terbaik dari Sang Pencipta Alam.

    Dan di antara faktor rumitnya memahami maksud sesungguhnya dari Al Quran, adalah bahwa setidaknya saja para penerjemah atau mufassir (penafsir), memiliki pengetahuan di bawah ini dalam menafsirkannya:

    1. Ilmu Lugath (filologi), yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata

    2. Ilmu Nahwu (tata bahasa), yaitu ilmu tata bahasa, misalnya ilmu untuk mengetahui alternatif i’rab (bacaan akhir kata) dari setiap kata atau kalimat, karena i’rab yang berbeda akan mempengaruhi artinya

    3. Ilmu Sharf (perubahan bentuk kata). Sangat pentinglah mengetahui ini, karena perubahan sedikit bentuk kata, dalam Tata Bahasa Arab, akan mengubah arti kata tersebut, tentu saja.

    4. Ketiga ilmu di bawah ini digolongkan cabang ilmu Balaghah yang sangat penting diketahui para ahli tafsir:

    i. Ilmu Ma’ani (hakikat makna dari suatu kata). Dengan mengetahui hakikat maknanya, maksud dari suatu ayat dapat diketahui.

    ii. Ilmu Bayaan. Ilmu yang mempelajari kelugasan dalam untaian kata atau kalimat.

    iii. Ilmu Badi’. Ilmu yang mempelajari keindahan bahasa.

    5. Ilmu Qira’at. Sebagaimana umum diketahui kaum terpelajar muslim, Al Quran diturunkan oleh Alloh dalam tujuh huruf (Sab’ati Ahruf), tujuh cara membaca. Maka para ’Ulama pun telah menguraikan, bahwa hal ini adalah keanekaragaman cara membaca Al Quran, dengan tetap mengikuti Tata Bahasa Arab, yang semuanya bersumber dari Nabi Muhammad sholollohu‘alaihi wasallam, dan sungguh dibenarkan. Bahkan setiap cara membaca ini, satu dan lainnya sungguh saling melengkapi, sebagai satu rangkaian. Dan ini merupakan mukjizat tersendiri dari Al Quran.

    6. Ilmu Aqa’id. Ilmu yang mempelajari dasar-dasar keimanan.

    7. Ilmu Ushul Fiqih. Dengan ilmu ini insya Alloh dapat diambil dalil serta penggalian hukum agama dari suatu ayat.

    8. Ilmu Asbabun-Nuzul. Ilmu untuk menguraikan tentang sebab turunnya suatu ayat. Tentu saja engetahuan tentang situasi dan kondis yang bersamaan dengan atau menyebabkan asbabun-nuzul (sebab turunnya) suatu ayat akan sangat membantu dalam memahami kandungan dan maksud sebenarnya dari ayat tersebut.

    9. Ilmu Nasikh-Mansukh. Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hukum yang sudah dihapus dan hukum yang masih berlaku.

    10. Ilmu Fiqih. Dengan mengetahui hukum-hukum yang rinci tentu insya Alloh akan mudah diketahui hukum globalnya.

    11. Ilmu Hadits. Ilmu untuk mengetahui Hadits-hadits yang menafsirkan ayat-ayat Al Quran.

    Termasuk tentu saja, syarat fakta dan urutan Sejarah yang sangat ketat akan semua ini.

    Syarat verifikasi seketat berbagai hal yang disebutkan di atas ini, tidak dijumpai dalam penerjemahan di kalangan non-muslim.

    Sedikit mengenai buku ”Bible, Quran, dan Sains Modern” (ditulis oleh DR Maurice Bucaille dan adalah sebuah best-seller, serta sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia), di dalam buku ini juga dimuat kritik terhadap cara dan hasil penerjemahan Al Quran sendiri yang dapat menjadikannya bermakna sempit dan kehilangan banyak keagungan, kebenaran dan keindahannya (dan juga sebagai akibat dari penyebaran kaidah-kaidah Islam yang tidak dilakukan dengan baik).

    Hal ini menurutnya dapat terjadi karena kurangnya pemahaman etimologi bahasa dan ilmu pengetahuan ilmu serta teknologi dari para penerjemahnya; dan kemudian menyebabkan ‘reaksi berantai’ penyampaian isinya yang juga ‘terdistorsi’, menjadi terganggu.

    Contoh lebih jelasnya adalah, seseorang insya Alloh subhanahu wa ta’aala akan dapat dengan tepat mengungkapkan kandungan kebenaran ilmu kedokteran dan manusia di dalam Al Quran bila ia mengetahui dengan baik makna dan aturan etimologi bahasa Arab tersebut, sekaligus kaidah-kaidah ilmu kedokteran.

    Hal yang sama juga berlaku terhadap pengajian (interpretasi) ayat-ayat Al Quran yang berkenaan dengan berbagai macam ilmu-pengetahuan atau sains lain, seperti astronomi, fisika, biologi, kimia, ekonomi, hukum, dan sebagainya.

    Maka, dasar-dasar pengetahuan itu tentu sebaiknya juga harus dimiliki bila hendak mengetahui dan menerangkan kaidah ilmu-ilmu yang terkandung dalam Al Furqan.

    Hal-hal ini semua tak mungkin kiranya dimiliki banyak penerjemah Al Quran secara perseorangan, yang setiap orang dituntut harus menguasai sedemikian banyak ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Al Quran agar dapat benar-benar menerjemahkannya sesuai maksud aslinya, selain pengetahuan bahasa Arab sendiri yang sudah cukup rumit tata bahasanya.

    Akhirnya, antara lain dengan menyadari hal-hal ini berdasarkan hidayah (pencerahan atau wahyu dari) Alloh subhanahu wa ta’aala, DR. Maurice Bucaille pengarang buku tersebut, kemudian menjadi muslim atau mualaf dengan suka rela, dan lalu aktif menjadi da’i (pendakwah) internasional. Bahkan pada beberapa tahun silam, seri rekaman acara dakwah yang menghadirkan dirinya hampir tiap malam ditayangkan di Indonesia melalui stasiun TV Indonesia, TPI, di larut-larut malam.

    Maka di sini pulalah perlunya untuk berjama’ah, berorganisasi, dan dengan sendirinya melakukan manajemen yang baik dalam melakukan kebaikan (dan dalam hal ini adalah dalam melakukan penerjemahan dan penafsiran ini agar dapat benar-benar mengetahui dan mendapatkan nikmat Alloh subhanahu wa ta’aala di tahap-tahap berikutnya).

    Berjama’ah dalam kebaikan itu, tentu saja adalah baik. Sahabat, ipar, dan menantu Rasululullah sholollohu‘alaihi wasallam, sang Kholifah Keempat, Kholifah Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu, berkata dalam Atsar (jejak kebijaksanaan) beliau, ”Kejahatan yang diorganisasikan dengan baik, akan dapat mengalahkan kebaikan yang tidak diorganisasikan dengan baik”.

    Pantas pulalah kiranya bila para penerjemah-penafsir yang mengerti ilmu Kedokteran harus menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu Kedokteran dengan mengkorelasikannya dengan segala kaidah ilmu kedokteran sesuai keahliannya, para penerjemah-penafsir yang mengerti ilmu Fisika harus menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu kedokteran dengan mengkorelasikannya dengan segala kaidah ilmu Fisika sesuai keahliannya; demikianlah seterusnya berkenaan dengan berbagai ilmu-pengetahuan sains dan teknologi lain yang ada di dalam kandungan Al Quran, sehingga dapatlah didapatkan suatu gambaran yang menyeluruh, tentang apapun yang dimaksudkan oleh Kitab Suci ini.

    Dan bahkan di masa lalu, tak jarang para ahli ilmu-pengetahuan justru mendapatkan inspirasi untuk suatu titik kemajuan ilmu-pengetahuan baru, bahkan titik berhenti etisnya, setelah menelaah Al Quran dan berbagai hal berkaitan.

    Penafsiran itu sendiri, seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan ilmu-pengetahuan manusia, tentu saja juga harus diperbarui setiap kali atau secara berkala, dicocokkan, dikorelasikan dengan segala perkembangan ilmu-pengetahuan; setidaknya karena ayat-ayat Alloh tidaklah hanya yang Qauliyah (tertulis, tersurat) namun juga yangKauniyah (tidak tertulis, tersirat, terhampar luas di alam semesta dalam berbagai ilmu pengetahuan).

    Keduanya, tentu saja, seharusnya, sewajarnya, adalah saling menguatkan, karena berasal dari Tuhan yang sama, Tuhan Semesta Alam, dalam sistem Manajemen Fitrahi Beliau. Jika tidak, maka keduanya, tentu saja, seharusnya, sewajarnya, salah satu darinya adalah palsu.

    Kemudian Bahasa Arab yang mempunyai kekayaan makna yang banyak untuk satu kata, sehubungan dengan ini semua, selain dapat menjadi sebab kesalahan pengartian, justru juga dapat menjadi kunci kekayaan pesan ilmu pengetahuan dan berbagai kemungkinan penafsirannya, yang satu sama lain dapat mempunyai keistimewaan sendiri, fleksibel bahkan seiring dengan perkembangan kemampuan berpikir atau ilmu-pengetahuan manusia dan jin, serta saling mendukung; dalam sistem besar Alloh subhanahu wa ta’aala dalam Manajemen Fitrahinya ini.

    Sementara sebagaimana telah pula diperintahkan dalam Al Quran tentang pernyataan Alloh subhanahu wa ta’aala bahwa manusia tak mungkin dapat menembus dan menggunakan rahasia langit dan bumi kecuali dengan ilmu pengetahuan (sulthan, dalam Al Quran Surat Ar Rahmaan ayat 33 atau Al Quran Surat 55:33), penyelarasan hubungan antara agama dan ilmu-pengetahuan kemudian membentuk suatu hubungan yang istimewa dan saling menguatkan serta bersintesa sehingga penafsiran kata-kata Al Quran pun menjadi sedemikian lebih kaya arti. Wallahu ’alam bis shawaab.

    Contohnya, ”langit yang tujuh (7)” bahkan ”bumi yang tujuh (7)” dalam berbagai ayat Al Quran yang diulang berkali-kali (setidaknya tentang tujuh langit ini, diulangi sebanyak tujuh kali pula di tujuh ayat Al Quran ), juga dapatlah dibaca-dipahami sebagai ”langit yang banyak” dan ”bumi yang banyak” dengan juga mengingat bahwa kata ”tujuh” dalam khazanah Bahasa Arab, adalah juga berarti ”banyak” (kaum Arab tradisional di masa Al Quran diturunkan menganggap jumlah tujuh dan di atas tujuh, sebagai jumlah yang banyak, tak terhitung lagi). Apakah tidak mungkin jika saat ini dengan segala pengetahuan astronomi terkini, kalimat-kalimat itu juga dipahami sebagai sebagai ”galaksi-nebula yang banyak” dan ”planet yang banyak”?

    Menurut saya, ini pulalah kiranya salah satu hikmah maksud penyampaian Islam dan Al Quran dalam bahasa Arab, selain memang disampaikan melalui umat Bani Arab (yang tentu saja pada dasarnya berbahasa Arab) yang juga merupakan keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam selain Bani Israil yang melalui mereka telah diutuskan banyak Nabi dan Rosul, dengan alasan-alasan yang hanya Alloh subhanahu wa ta’aala yang lebih mengetahuinya.

    Dan sungguh berbahagialah kiranya Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam dan istri-istrinya yang telah menurunkan dua rumpun ras besar, bani Israil dan bani Arabia melalui dua anaknya, Nabi Ismail ‘alaihis salaam dan Nabi Ishak ‘alaihis salaam; dengan sekian banyak Nabi yang diturunkan dalam garis keturunan mereka. Semoga keterhubungan ini dapatlah dijadikan dasar perdamaian dunia, terutama bila kita semua bersedia lebih dalam mempelajarinya, termasuk tentunya juga mempelajari sejarah yang benar.

    Manusia dengan tingkat pengetahuan sederhana pada jaman Rosululloh sholollohu‘alaihi wasallam, dapat dengan mudah menerima kalimat-kalimat sederhana (misalnyaperbandingan sederhana antara Matahari dan Bulan di Al Quran Surat Nuh 15-16 itu), dengan kalimat-kalimat sederhana ini.

    Namun kalimat-kalimat sederhana inipun dapat berarti dalam, serta dapat diterima oleh bahkan para ahli ilmu-pengetahuan di luar komunitas Rosululloh sholollohu‘alaihi wasallam, dan yang hidup berabad-abad kemudian, termasuk mereka yang sangat senang mengunakan logika dan ilmu-pengetahuan sains modern atau posmodern untuk memahami segala sesuatu. Ini memuaskan semua kalangan pencari kebenaran. Dan ini adalah salah satu hikmah dari Al Quran .

    Inilah yang sangat menarik dan perlu dicatat di sini, yaitu tentang adanya suatu keagungan perbandingan, dan tidak adanya dalam Al Quran perbedaan makna perbandingan berkaitan dengan adanya perubahan jaman yang mungkin menunjukkan keagungannya pada waktu Al Quran turun, namun yang pada saat ini menjadi hanyalah dapat dipandang sebagai sisa mitos atau khayalan tidak ilmiah belaka, sebagaimana dapat dan telah terjadi pada kitab(-kitab) yang telah salah-kaprah dianggap ‘kitab suci’ lain.

    Pendeknya, makna dari teks-teks Al Quran ini, ternyata konsisten dalam berbagai jaman, merupakan pesan sepanjang jaman, bahkan bila ditelaah dari berbagai sisi dan disiplin ilmu serta peradaban, setidaknya saja.

    Dan masih banyak ayat lain yang memuat isyarat ilmu pengetahuan di berbagai bidang. Maka, wajarlah pula kiranya jika seorang manusia berpengetahuan yang jujur dan sehat akalnya, berkesimpulan bahwa amat tak mungkinlah kiranya bahwa seorang pedagang (businessman) Arab bernama Muhammad bin ‘Abdullah bin Abdul Muthalib sholollohu‘alaihi wasallam yang ternyata tak dapat membaca dan menulis (ummiy atau buta huruf) serta hidup di tengah gurun pasir Arab terpencil di abad VI Masehi, dapat dengan tepat mengungkapkan bahkan menyebutkan dengan jelas berbagai kaidah ilmu pengetahuan yang tersirat maupun tersurat di berbagai surat Al Quran.

    Kebenaran hal-hal itu sendiri bahkan baru dapat dibuktikan berabad-abad setelah ia wafat, oleh berbagai cabang ilmu pengetahuan modern.

    Jelas, Rosululloh Muhammad bin ‘Abdullah sholollohu‘alaihi wasallam tak mungkin mengarang itu semua sendirian atau bahkan bila telah menuliskan itu semua dengan dibantu makhluk lain (misalnya para sahabatnya yang mengelilinginya bahkan juga bila ternyata dibantu oleh banyak orang lain dan makhluk lain pada masa itu).

    Apalagi setidaknya kemudian di dalam kitab itu juga ditemukan adanya dukungan, pembenaran, dan perbaikan terhadap perkembangan ajaran-ajaran para Nabi dan Rosul terdahulu. Itupun, masih ditambah pula dengan adanya kenyataan bahwa “Al Furqan” (nama lain Al Quran yang berarti “pembeda”) ini juga disusun berdasarkan kaidah sastra Arab yang tinggi dan indah; satu hal yang lebih mengherankan lagi, mengingat Muhammad sholollohu‘alaihi wasallam sendiri sekali lagi, dikenal sebagai orang buta huruf (ummy).

    Pantaslah pulalah kiranya kita berkesimpulan bahwa Muhammad sholollohu‘alaihi wasallam adalah benar-benar seorang utusan dari Tuhan Yang Benar, yaitu Alloh subhanahu wa ta’aala, Tuhan para Nabi yang membawa risalah agama yang sama, dan bahwa Rosululloh sholollohu‘alaihi wasallam benar-benar membawa pesan yang benar-benar berasal dari Alloh subhanahu wa ta’aala, Beliau, Tuhan Yang maha Tinggi, berupa rangkaian pesan yang dikumpulkan dalam Kitab Suci Al Quran.

    Ini adalah baru beberapa hal saja yang baru dapat diungkap dari keajaiban Al Quran.

    Maka, karenanya, tentulah sangat penting mentaati Alloh subhanahu wa ta’aala dan Rasulnya, melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, termasuk karena yang diturunkan Alloh subhanahu wa ta’aala kepada manusia dan jin, seluruh makhluk, seluruh alam semesta, adalah rangkaian dari pesan yang satu sejak para nabi dan rasul sebelum Rosul Terakhir Rosululloh Muhammad sholollohu‘alaihi wasallam.

    Semoga Dapat Dicerna oleh Bapak dengan baik dan benar.
    Wallohua’lam. Wastaghfirulloh. Walhamdulillah.

    • Penjelasan yang sangat cerdas dari penulisnya. Niat yang sangat baik dari Saudara Wawan yang menyampaikannya sebagai kebenaran yang Saudara Wawan yakini dari agama yang Saudara Wawan anut.

      Sebagaimana yang pernah saya sampaikan bahwa saya mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rasul atau Nabi yang terakhir Allah utus ke permukaan bumi. Saya membenarkan bahwa Beliau mendapatkan wahyu langsung dari Allah melalui Malaikat Jibril. Wahyu-wahyu itu kemudian dikitabkan menjadi Alqur’an setelah Beliau wafat tepatnya pada masa kepemimpinan Khalifah Usman. Karena fakta sejarahnya setelah Nabi Muhammad wafat mulai terjadi perpecahan dengan berbagai kepentingan ujung-ujungnya terkait politik khususnya, jadi menurut saya pribadi kebenaran bahwa 100% isi Alqur’an saat ini adalah benar-benar wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, masih memerlukan pembuktian dengan penelaahan lebih jauh, dalam serta teliti. Apalagi Al-Hadits. Dalam hal agama, saya tetap akan netral. Saya tidak heran kalau banyak ayat di Alqur’an yang memang ajaib karena mengungkapkan berbagai hal yang semestinya di zaman Nabi Muhammad hidup belum bisa diungkapkan oleh manusia karena belum memadainya teknologi karena memang banyak ayat di Alqur’an yang memang benar-benar asli berasal dari Allah melalui Malaikat Jibril. Saya tidak katakan 100% Alqur’an tidak asli. Saya juga tidak heran juga dengan beragam hal ajaib lainnya dari Alqur’an.

      Yang jelas, saya bangga dengan tingkat penelaahan kesejatian yang Saudara Wawan telah capai karena Saudara Wawan meyakini serta menjalani agama berdasarkan hasil penelaahan bukan berdasarkan garis keturunan semata seperti kebanyakan orang. Mungkin Saudara Wawan sudah membatasi penelaahan sampai tingkatan agama tersebut dan itu lumayan untuk dunia maupun akhirat. Yang jelas pula, saya berharap Saudara Wawan tidak termasuk golongan radikal atau fanatis yang seringkali hobi mendebat, menghujat bahkan anarkis ke pihak-pihak yang dinilainya tak sama dengannya karena biasanya mereka merasa apa yang diyakininya sudah 100% benar lalu yang lain dianggap pasti salah bahkan dianggap kafir sehingga mereka cenderung memaksakan kehendak juga keyakinan kepada pihak lain. Sesungguhnya Nabi Muhammad tidak mengajarkan sikap-sikap fanatisme maupun radikalisme tersebut.

      Silakan konsisten menerapkan keyakinan yang ada dengan damai. Biarkan pihak lain yang tak sama tetap menjalani keyakinannya masing-masing. Allah-lah yang berhak memvonis dan memutuskan sikap untuk seluruhnya tanpa terkecuali. Faktanya, karena banyak teori namun minim implementasi, lihat saja bagaimana perkembangan Islam yang lamban di Indonesia karena oknum-oknumnya. Jumlah penganutnya mayoritas tapi kalah pesat perkembangannya dengan pihak lain yang intinya sebenarnya hanya karena faktor manajemen lapangan yang kurang disiplin dan kepedulian yang rata-rata masih minim dari kebanyakan penganut terhadap proses perkembangan yang berlangsung.

      Sementara ini jawaban dari saya atas artikel yang Saudara Wawan kirimkan beberapa hari yang lalu melalui fasilitas comment yang ada di blog sederhana ini. Terima kasih. Salam Segala Salam. ^_^

      • Wawan berkata:

        Salam hormat Pak Aditya :
        1. Terima kasih, atas pengakuan Bapak mengenai keistimewaan2 Al-Quran dan jaminan ke-
        aslian Al-Quran walaupun Bapak belum meyakininya dengan 100 %, lahir dan bathin.

        2. Kedua, saya tegaskan bahwa pemahaman saya tentang Islam hanya bertumpu pada 2
        pegangan saja yaitu Quran dan Sunnah Nabi SAW. Dakwah saya haruslah disampaikan
        dengan hikmah dan pelajaran yang baik, kalaupun diperlukan berdebat maka saya akan
        lakukan secara baik, hanya untuk membuktikan kebenaran Islam. Kalaupun lawan debat
        tidak menerima saya tidak akan pernah berputus asa karena hidayah hak Alloh semata.
        Intinya, apapun hasil dari sebuah dakwah….rasa cinta dan sayang saya terhadap sese-
        orang tidak akan pernah berkurang sedikitpun, toh tanggung jawab di hadapan Alloh di-
        lakukan secara pribadi-pribadi. Tetapi selama hayat masih dikandung badan saya mem-
        punyai kewajiban untuk mendakwahkan dan membela Al-Islam.

        3. Demikian tanggapan saya yang sederhana untuk artikel Bapak yang berjudul SURGA
        DALAM SUDUT PANDANG NETRAL. saya kira tanggap saya cukup dan pendirian Bapak
        pun sudah dapat saya fahami, sehingga siapapun yang membaca blog Bapak telah men-
        dapatkan sudut pandang yang berimbang dengan adanya komentar-komentar saya ini.

        4. Salam hormat dari saya, dan Bapak jangan pernah bosan apabila saya mengomentari
        komentar-komentar saya pada tulisan Bapak yang lain. Saya berharap Bapak untuk
        dapat segera mengeluarkan tulisan-tulisan lainnya dan saya akan sangat rindu untuk
        dapat segera mengomentarinya. Terima kasih.

        Salam hormat saya,

        Wawan Hermawan

      • Terima kasih pula saya haturkan kepada Saudara Wawan karena telah turut menghiasi blog sederhana ini dengan diskusi yang baik nan hangat. Semoga diskusi kita ini bermanfaat positif untuk pembaca yang lainnya. Sampai jumpa lagi di diskusi berikutnya bila Tuhan masih mengizinkan kita hidup di permukaan bumi ini. Saya pribadi mohon maaf bila ada hal yang kurang atau bahkan tak berkenan dari saya.

        Salam Segala Salam. ^_^

Komentari artikel, sampaikan atau tanyakan sesuatu:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: